JAKARTA – Ajang Fashion Nation XIX Edition yang digelar Indonesian Fashion Chamber (IFC) Jakarta Chapter di Senayan City, Sabtu (20/9), menjadi panggung selebrasi wastra Nusantara yang dikemas dalam gaya kontemporer.

Sembilan desainer ternama menampilkan koleksi penuh makna, mulai dari kebaya modern, lurik, batik, hingga tenun Baduy dan Sumba. Lenny Agustin membuka peragaan dengan koleksi Urban Romanticism, menafsirkan kebaya sebagai simbol tradisi dan gaya hidup modern. Paduan denim, renda, dan sulaman bunga melambangkan kekuatan sekaligus keanggunan perempuan Indonesia.
Kolaborasi lintas daerah juga mengemuka. Wignyo Rahadi bersama Bank Indonesia Bengkulu menghadirkan tema Serawai dengan inspirasi flora-fauna lokal, sementara Ning Santoso bersama Batik Salawaku dan The Paris Moda mengangkat batik Maluku Utara dalam busana sopan berkelas dunia.




Kekuatan tenun turut ditonjolkan. Yanti Adeni mengolah Tenun Baduy menjadi koleksi serbaguna, sedangkan Shamara menampilkan Pearl from the East dengan sentuhan Pahikung Sumba Timur yang simpel dan modern. Chaera Lee berkolaborasi dengan Wastra Batik Semarang menghadirkan Laras Hati, koleksi modest wear yang menghubungkan tradisi dengan semangat muda.
Rumah Batik Wijaya menyajikan Raras Jati Emas, perayaan keanggunan Jawa lewat motif batik bernuansa emas, hijau, dan merah marun, simbol perempuan yang anggun namun kuat. Sementara itu, label NonaAltha.id memperkenalkan Revive, koleksi hijab kontemporer yang memadukan sutra Garut dengan siluet minimalis untuk gaya smart-casual.
Dengan lebih dari 50 penampilan, Fashion Nation XIX tak hanya menghadirkan karya busana, tetapi juga narasi budaya. Setiap koleksi seakan mengingatkan bahwa batik dan wastra bukan sekadar warisan, melainkan bahasa mode global yang terus berkembang, sekaligus refleksi identitas perempuan Indonesia yang elegan, percaya diri, dan modern.

