Benteng Keraton Kartasura adalah sisa peninggalan sejarah dari Kesultanan Mataram yang terletak di Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah. Benteng ini dulunya merupakan bagian dari Keraton Kartasura, yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan Mataram pada akhir abad ke-17 hingga awal abad ke-18.
Keraton Kartasura didirikan oleh Amangkurat II pada tahun 1680 setelah ibu kota Mataram dipindahkan dari Plered, akibat serangan dari pemberontakan Trunajaya. Benteng ini dibangun sebagai pertahanan terhadap ancaman dari luar.
Saat ini, sisa-sisa Benteng Keraton Kartasura masih bisa ditemukan, meskipun dalam kondisi yang tidak utuh. Beberapa bagian tembok benteng masih berdiri dan menjadi saksi bisu kejayaan Mataram di masa lalu. Situs ini memiliki nilai sejarah yang tinggi dan menjadi salah satu destinasi wisata budaya di Sukoharjo.
Runtuhnya Benteng Keraton Kartasura terjadi pada tahun 1742, yang menandai salah satu periode krisis besar dalam sejarah Kesultanan Mataram. Peristiwa ini erat kaitannya dengan pemberontakan Mas Garendi (Sunan Kuning) yang didukung oleh masyarakat Tionghoa yang marah atas kebijakan kolonial Belanda dan raja Mataram saat itu, Pakubuwana II.
Latar Belakang Kejatuhan Benteng Kartasura
- Ketidakpuasan Rakyat dan Bangsawan
- Pakubuwana II banyak bergantung pada VOC (Belanda), yang menyebabkan ketidakpuasan di kalangan bangsawan Mataram.
- Beban pajak yang berat dan kebijakan yang merugikan rakyat membuat ketegangan meningkat.
- Pemberontakan Mas Garendi (Sunan Kuning)
- Pada tahun 1740, terjadi pembantaian orang Tionghoa di Batavia oleh VOC, yang memicu pemberontakan besar-besaran di Jawa.
- Mas Garendi memimpin pasukan gabungan antara orang Tionghoa dan pribumi untuk menyerang Keraton Kartasura.
- Serangan dan Runtuhnya Benteng
- Pada tahun 1742, pasukan Mas Garendi berhasil merebut Kartasura.
- Pakubuwana II terpaksa melarikan diri ke Ponorogo.
- Keraton Kartasura mengalami kehancuran parah akibat serangan tersebut.
Dampak Runtuhnya Benteng Kartasura
- Perpindahan Keraton ke Surakarta
- Setelah kembali ke tahta dengan bantuan VOC, Pakubuwana II menganggap Kartasura sudah tidak layak lagi sebagai pusat pemerintahan karena sudah berhasil dijebol.
- Pada 1745, ia memindahkan ibu kota Mataram ke Surakarta, yang menjadi cikal bakal Kasunanan Surakarta.
- Meningkatnya Pengaruh VOC
- Pakubuwana II semakin bergantung pada VOC setelah mendapatkan kembali tahtanya.
- Ini mempercepat intervensi Belanda dalam urusan internal Mataram.
Runtuhnya Benteng Keraton Kartasura adalah simbol lemahnya kekuasaan Mataram pada masa itu dan menjadi titik balik yang menyebabkan pemindahan pusat pemerintahan ke Surakarta. Peristiwa ini juga menunjukkan semakin kuatnya pengaruh Belanda dalam politik Jawa.

