Lurik merupakan ciri khas dirinya menghasilkan karya busana. Kain yang pertamakalinya digunakan oleh Sultan Hamengku Buwono ke-7 ini dulunya digunakan pada saat upacara larungan. Dan lurik paling sulit dikembangkan menjadi busana yang wearable. Kesulitan tersebut menjadi tantangannya menghasilkan lurik yang menawan. Philip Iswardono mengusung konsep Zen hingga mengahasilkan aura beauty batik lurik.
Menggunakan batik tulis motif truntum dengan metode lipatan, kain lurik disandingkan dengan batik. Kekhasannya tak hilang dan warna sogan batik pendampingnya dibuat proposional. Pada karyanya yang lain, warna merah dikenakan mendampingi warna coklat dan menghasilkan padanan memikat.



Sumber: Majalah BATIK On Fashion

