https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Dukung Sorgum untuk Swasembada Nasional

Selain padi dan jagung, ada sorgum sebagai makanan utama. Sorgum dibudidayakan untuk ketahanan pangan Nusantara di masa depan.

Tidak banyak orang tahu mengenai tanaman garai atau yang dikenal dengan nama sorgum (sorghum spp.). Sebagai tanaman palawija, ia kerap dikesampingkan sebagai sumber pangan, terkalahkan oleh beras.

Namun siapa sangka, sorgum menyimpan potensi yang amat besar, baik bagi kesehatan pribadi, perekonomian masyarakat, hingga ketahanan pangan nasional. Apalagi dalam situasi geopolitik yang tidak menentu, tuntutan akan keamanan dan ketahanan pangan menjadi hal utama.

Dalam rangka mendukung program ketahanan pangan yang dicanangkan oleh pemerintah, Founder Pustaka Memori Nusantara, Aditya Mahar dan koresponden Pustaka Memori Nusantara Yogi Susatyo menghadiri peluncuran beras sorgum dan produk tepung berbahan dasar sorgum.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Sorgum Sejahtera Foundation di bawah gagasan Moh Rifai (wirausahawan Sorgum) dan Prof Hafid Abbas (mantan komisioner Komnas HAM RI) di Mall Rongsok, Jl. Bungur Raya, Beji Depok pada 15 April 2024.

Dalam kesempatan ini, hadir pula beberapa public figure penting Indonesia seperti bapak Dr. Nur Mahmudi Ismail (Mantan Walikota Depok 2006-2016 dan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI keenam), Neno Warisman (aktris dan aktivis), Andi Harnoko (Ketua Bidang Litbang, IT dan Database Partai Buruh), Harsubeno Arief (Jurnalis), dan lain-lain. Nampak pula perwakilan dari Kodim 0508 Depok, Mayor (Inf.) Prasetya.

Acara dibuka bersama oleh Mohammad Boy Rifai (Yayasan Sorgum Sejahtera), Nurcholish (founder Mall Rongsok), Neno Warisman, dan Prof. Hafid.

Secara seremonial, dilakukan pemotongan tumpeng berbahan dasar nasi sorgum oleh ibu Neno dan bapak Nurcholish yang kemudian diserahkan kepada Dr. Nur Mahmudi dan Prof. Hafid Abbas. Setelah sesi foto bersama, dilakukan acara ramah tamah dan talkshow terkait sorgum dan potensinya di Indonesia.

Potensi Besar Sorgum

Selama acara, para peserta disuguhi berbagai panganan berbahan dasar sorgum, dari nasi sorgum, bubur rempah sorgum, dan beraneka makanan lainnya.

Secara rasa, tidak banyak berbeda antara sorgum dengan nasi. Hal ini dikarenakan varietas sorgum yang digunakan, yakni Bioguma, telah disempurnakan lewat berbagai pemuliaan hingga mencapai kualitas bulir yang baik dan mirip dengan bulir beras.

Halangan dari budidaya sorgum di Indonesia lebih banyak berasal dari tidak biasanya masyarakat mengonsumsi bahan panganan ini, utamanya jika disandingkan dengan tanaman alternatif pengganti nasi yang lain seperti ubi dan singkong.

Namun tidak semua orang tidak akrab dengan sorgum. Salah satu peserta, Dr. Moh. Baharuddin dari RS. Budi Kemuliaan, menceritakan pengalamannya soal sorgum.

“Pada masa PRRI, kami (keluarga Dr. Baharuddin) di Sumatera Barat, sorgum jadi penyelamat kami”.

Bapak Darso dari pulau Rote juga menekankan bahwa sorgum sendiri telah dibudidayakan di Rote secara lokal semenjak masa kolonial Belanda.

“Sayang karena tidak banyak dukungan, budidaya sorgum berhenti”, ujarnya ketika diwawancara.

Peluang Pasar

“Dunia menghadapi dua masalah besar, food scarcity dan food safety. Isu ini akan menjadi isu global” ujar Prof. Abbas dalam pembukaan acara.

Hal ini amat relevan, dikarenakan keadaan perang dagang antara negara-negara besar, ketegangan geopolitik di wilayah regional dan isu iklim membuat swasembada menjadi hal penting demi ketahanan dan keutuhan bangsa Indonesia.

Ketergantungan terhadap padi membuat Indonesia rentan krisis pangan. Sorgum hadir sebagai alternatif yang sangat baik.

“Harga Pokok Produksi sorgum ekonomis, di bawah gabah. Budidayanya sendiri juga amat murah, tidak perlu irigasi air rumit, cukup lahan tadah hujan. Kebutuhan pupuk juga sedikit.” Nur Mahmudi, sosok yang pada masa baktinya sebagai Walikota Depok mengagas program One Day No Rice (ODNR), menerangkan dalam sesi talkshow.

Karena sifatnya yang tidak perlu irigasi, maka ia tidak harus bersaing dengan pasar beras. Selain itu, serat sorgum lebih baik, dan kandungan nutrisinya aman bagi penderita diabetes. Sorgum dapat dipasarkan baik sebagai tanaman kesehatan maupun tanaman pangan biasa.

Ketahanan Pangan Nasional

Komitmen pemerintahan Presiden Prabowo untuk kedaulatan pangan, ketahanan pangan dan keamanan pangan telah diimplementasikan semenjak penyusunan kabinet akhir 2024 silam, dengan didirikannya Kementerian Koordinator Pangan, Badan Gizi Nasional, program Swasembada Pangan, hingga Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pustaka Memori Nusantara mendukung penuh program ketahanan pangan, dan berkomitmen untuk mendukung penuh program penyebarluasan konsumsi sorgum di kalangan masyarakat maupun program budidayanya. Hal senada juga disampaikan berbagai pihak yang hadir.

Andi Harnoko, mewakili Partai Buruh, melihat potensi ekonomi wirausaha sorgum sebagai jaring pengaman sosial. Saat ini Partai Buruh sedang membangun platform social commerce diantara para buruh.

Ia berharap dengan hadirnya wirausaha sorgum, dapat menjadi mata pencaharian sampingan bagi para buruh, atau malah dapat menjadi alternatif konsumsi bagi para kaum buruh yang ekonomis.

Tidak hanya bagi buruh, Nur Mahmudi juga mengemukakan bahwa sorgum dapat jadi panganan alternatif bagi para prajurit TNI, dan komoditas sorgum bisa dijadikan salah satu tanaman budidaya dari program pembangunan TNI di berbagai daerah.*

Menggabungkan budaya tradisional dengan teknologi modern, Batik NFT bisa terwujud. Umumnya diperjualbelikan di blockchain.

Batik NFT? Apa Sih?

Ilustrasi seorang jurnalis sedang meliput kegiatan fashion show batik.

Keuntungan Memiliki Media Online