Berkah pun didapat oleh perajin batik Alam Pesisir (Alsier) di acara Preparotary Commite (Prepcom) for United Nation Habitat III di Surabaya, 25 – 27 Juli 2016. Batik motif mangrove yang mereka buat diminati oleh tamu asing yang hadir di acara tersebut. Dalam sehari perajin tersebut meraup untung jutaan.
Lilik Endang dan Sujiah, pemilik Batik Alsier yang membuka booth di acara tersebut juga memperagakan cara membatik untuk para tamu dari delegasi negara peserta UN Habitat. Pembatik asal Wonorejo, Surabaya, Jawa Timur tersebut senang akan dampak penjualan tersebut. “Meski saya tadi repot jadi instruktur membatik, tapi ternyata batik saya juga laku terjual. Kata menantu saya tadi ada 10 kain batik yang dibeli sama bule,” katanya sumringah.
Ibu tiga anak ini mengatakan, biasanya 10 kain itu terjual dalam jangka waktu sebulan. Namun, karena ada event ini, omzet penjualannya pun berpengaruh.
“Bersyukur yang pasti. Tapi, agak sedikit menyesal sih karena waktu kunjungan ke Mangrove cuma sebentar tidak sampai 2 jam. Semisal waktunya agak lama, mungkin kain batik saya akan semakin banyak yang terjual,” terangnya.
Lilik mengatakan, mempertahankan batik mangrove ini memang susah. Apalagi di era seperti ini, banyak pesaing perajin batik modern yang hasil karya lebih baik.
“Tapi saya tidak mundur, meski banyak teman yang sudah beralih profesi dari perajin batik mangrove. Ternyata tekad saya mempertahankan batik asli Surabaya ini juga mendapatkan hati bagi para bule,” katanya.
Menurutnya, ciri khas batik ini dari motif mangrovenya. Apapun warna kainnya, apapun corak atau hiasan penunjangnya, motifnya tetap mangrove.
Sujiah merasakan hal yang sama dan mengaku batiknya pun diminati para tamu dari luar negeri. “Kalau saya lebih ke kemejanya sih, ada sekitar enam kemeja yang sudah terjual. Untuk kainnya hanya empat potong yang terjual,” ujarnya. Ibu dua anak ini menambahkan, untung yang didapatkannya pun jutaan. Satu kemeja dijualnya dengan harga Rp 200.000, sedangkan untuk kain dijualnya dengan harga Rp 300.000.
“Untung yang saya dapatkan sekitar 50 persen dari harga jual, karena sisanya untuk modal produksi,” paparnya.
Ia mengatakan, batik mangrove ini memang bisa dikatakan batik langka. Sebab, tidak ada yang membuat batik motif mangrove di tempat lain.
“Oleh karena itu, kami memasang harga tinggi, batik mangrove ini semakin tren setelah dibukanya wisata mangrove di Wonorejo,” tandasnya.
Ia berharap, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus mengadakan event-event besar. Ia meyakini semakin banyak tamu asing ataupun lokal yang datang ke Wonorejo bisa meningkatkan omzet penjualannya.
Sumber: Tribun News

