Desa Mulyorejo Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan, sebagian besar perempuan tuanya berprofesi sebagai buruh colet batik. Kondisi lansekapnya yang berada di tepian laut pesisir utara Jawa membuat desanya kerap terendam rob. Namun semangat untuk bekerja tak pernah padam karena merupakan pekerjaan utama mereka. Mereka tetap membatik di genangan rob.
Pesisir Kecamatan Tirto sudah beberapa bulan ini tergenang rob dan sebenarnya menjadi hambatan pekerjaan para pencolet yang bekerja sambil berdiri dengan bentangan kain di depannya. Namun kondisi tersebut harus dilakukan mengingat banyak pesanan yang harus diselesaikan dan perolehan yang bisa dibawa pulang cukup untuk mempertahankan hidup. Hal ini pula yang diuraikan oleh Siti Khodijah (60 tahun) yang ketika genangan rob datang atau kondisi tanah becek, ia bekerja dengan menggunakan sepatu bot.
Hidup bersama dua anak dan empat cucunya, Siti Khodijah tak hendak berhenti dari pekerjaan yang telah ditekuninya sejak lama. Ia mengaku suaminya sudah lama meninggal dan ada salah-satu anaknya merantau ke Jakarta. Dirinya tetap ingin berarti dengan perolehan penghasilan dari mencolet. Bersama rekan-rekannya ia mencolet dalam kondisi rob sekalipun.
Kesulitan yang dialami ketika rob datang antara lain masalah posisi bekerjanya, penjemuran, dan penuh kehati-hatian memperlakukan kain yang telah dicoletnya. “Saya harus pakai sepatu boots. Kalau nggak kaki saya lecet, dan gatal-gatal. Ini masih sering rob. Belum lagi kalau hujan, pasti tambah banjir,” katanya. “Disini jemurnya susah. Kalau kain jatuh sedikit, langsung rusak hasil soletannya,” tambahnya.
Siti Khodijah menuturkan mampu menyelesaikan pencoletan hingga 40 kain sehari jika motif yang dicoletnya bermotif sederhana. Tetapi kondisi banjir menjadi halangan untuk melakukan penyelesaian pekerjaannya. Padahal jika dirinya mampu menyelesaikan 40 kain, perolehan yang bisa dibawa pulang per hari bisa mencapai Rp 150 ribu. Banjir rob mengurangi pendapatannya hingga 50%. Terlebih jika bajir rob disertai hujan, maka seluruh pekerjaan akan sekejap ditiadakan dan ia harus pasrah tak memiliki uang hari itu.
Dirinya menceritakan kejadian ini suda berlangsung sejak lama dan tidak pernah ada bantuan dari pemerintah untuk pembatik setempat. Dirinya dan teman-temannya berharap bantuan sekecil apapun agar bisa memudahkan mereka bekerja.
Sumber: http://www.radarpekalongan.com/13622/melihat-semangat-manula-buruh-batik-di-mulyorejo/

