https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in

Sekelumit Kisah Batik Peranakan

Di Indonesia, peranakan yang berakulturasi dengan masyarakat pribumi antara lain berasal dari etnis Tionghoa, Arab, Belanda, dan India.

Peranakan Tionghoa Tempo Dulu Berfoto Bersama Mengenakan Kain Batik Dan Kebaya
Peranakan Tionghoa Tempo Dulu Berfoto Bersama Mengenakan Kain Batik Dan Kebaya

Strategisnya Indonesia sebagai lalu lintas perdagangan dunia masa lampau, menghasilkan produk peranakan. Batik yang terlahir dari budaya tradisi Indonesia, berakulturasi dan berasimilasi dengan tradisi budaya pendatang. Maka muncul istilah batik peranakan.

Istilah peranakan ditujukan bagi warga pendatang dari etnis lain di suatu negara yang kemudian menetap hingga beranak-cucu. Warga peranakan umumnya masih menjaga kultur dan budaya nenek moyang mereka meski telah lama menetap di suatu wilayah. Dan bahkan kultur serta budayanya tersebut kerap berasimilasi dengan tradisi budaya setempat.

Di Indonesia, peranakan yang berakulturasi dengan masyarakat pribumi antara lain berasal dari etnis Tionghoa, Arab, Belanda, dan India. Kegiatan perdagangan yang mempengaruhi tradisi dan budaya batik Indonesia diperkirakan mulai terjadi sejak tahun 1800-an hingga 1900-an. Cita-rasa khas lokal berbaur dengan pendatang, maka batik melahirkan pula istilah batik peranakan.

“Batik peranakan ada dua kategori. Peranakan yang membuat batik atau pribumi yang membuat batik peranakan. Karakternya akan terlihat, semisal peranakan yang membuat batik, motifnya akan terlihat detail khas corak asal mereka. Sedangkan pribumi yang membuat batik peranakan umumnya akan memadukan motif khas tradisional dengan corak khas peranakan,” ujar Afif Syakur panjang lebar.

Seniman atau maestro batik asal Belanda paling terkenal adalah Carolina Josephine von Franquemont (1840) dengan kekhasan warna “hijau Prankemon”

Menerima unsur baru dalam tradisi lokal bagi masyarakat Indonesia bukan masalah. Begitu pula yang terjadi pada pendatang. “Contohnya adalah kain meja Tokwi altar doa asal Cina. Di negerinya, Tokwi dibuat dengan menyulam. Di Indonesia, Tokwi dibuat dengan cara dibatik,” tambahnya.

Ketika tradisi lokal diminati, mereka tak segan mengembangkannya. Wilayah akulturasi budaya paling masif terdapat di sepanjang pesisir Pantai Utara Jawa. Kekhasan dari batik hasil akulturasi budaya tersebut umumnya menghasilkan ragam bentuk corak dan warna batik yang berbeda dari sebelumnya. Muncul kemudian seniman maupun maestro batik para pendatang dengan seni pembatikan yang unik.

Seniman atau maestro batik asal Belanda paling terkenal adalah Carolina Josephine von Franquemont (1840) dengan kekhasan warna “hijau Prankemon”. Di Pekalongan, terdapat nama L. Metzelaar dan Elisa van Zuylen yang punya kekhasan corak pohon bunga, buket bunga, burung bangau, burung kecil, kupu-kupu dan detail lainnya.

Berbeda dengan Elisa van Zuylen yang menambatkan karyanya hanya pada motif floral khas Eropa, L. Metzelaar pula mengemas dongeng Eropa seperti si tudung merah (red riding hood), Cinderella, Sleeping Beauty, Hansel & Gretel, menjadi motif batik buatannya. Seniman batik asal Belanda lainnya yang juga cukup terkenal karyanya adalah A.F. Jans, Willer dan Jacqueline van Ardenne. Chaterine Caroline van Oesterom, B. Fisfer, dan S.W. Ferns, Scharff von Dop.

Setelah Indonesia merdeka, batik peranakan banyak dihasilkan oleh keturunan Tionghoa di wilayah Jakarta, Cirebon, Indramayu, Pekalongan, Demak, Lasem, Tuban, dan Gresik.

Peranakan Tionghoa Dengan Kebaya
Peranakan Tionghoa Dengan Batik dan Kebaya

Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, industri batik mengalami pengaruh kekuasaan tersebut. Ini terjadi di pesisir Utara Jawa yang bengkel-bengkel kerja batik milik Indo-Eropa, Indo-Arab, dan peranakan diharuskan bekerja untuk pendudukan Jepang. Hasil produksi batik era pendudukan Jepang melahirkan istilah batik Hokokai, yakni gaya batik yang banyak berisi detail, seperti penggabungan ciri pagi-sore, motif terang bulan, atau tanahan Semarang. Sedangkan motif khasnya adalah kemunculan corak bunga sakura, krisan, mawar, lili, anggrek ataupun teratai. Sedangkan motif fauna yang terkadang menghiasi corak batik hokokai adalah burung merak sebagai lambang keindahan dan keanggunan.

Batik Jawa Hokokai cenderung menggunakan latar-belakang atau isen-isen yang sangat detail. Contohnya adalah motif parang dan kawung, yang di bagian tengah ataupun tepiannya diisi dengan motif lain, semisal bunga padi.

Usai perang dunia ke-2, Jepang angkat kaki dari Indonesia. Meski industri batik sejak pendudukan Jepang mengalami masa surut, namun motif-motif baru terus berkembang. Muncul kemudian motif Jawa Baru, evolusi dari motif batik Hokokai. Motif ini berkembang tahun 1950-an dengan masih menunjukkan pengaruh batik Hokokai pada motif Jawa Baru tersebut. Perbedaannya, isen-isen-nya tidak serapat batik Hokokai.

Setelah Indonesia merdeka, batik peranakan banyak dihasilkan oleh keturunan Tionghoa di wilayah Jakarta, Cirebon, Indramayu, Pekalongan, Demak, Lasem, Tuban, dan Gresik. Seniman batik peranakan Tionghoa yang terkenal adalah antara lain The Tie Siet, Oey Soen King, Liem Hok Sien, Liem Boen Tjoe, Liem Boen Gan dan Oey Soe Tjoen.

Batik tiga negeri merupakan warna-warna tertentu dari tiga daerah. Inovasi batik ini diproses pewarnaannya di tiga daerah di Pulau Jawa seperti Solo dengan warna sogan, Pekalongan dengan warna biru, dan Lasem dengan warna merahnya.

Peranakan Belanda Menggunakan Batik dan Kebaya

Batik peranakan Cina umumnya menggunakan motif berdasarkan mitologi Cina seperti kilin, naga, burung phoenix (hong), dewa-dewa, api, mega, bunga, dan sulur-suluran berstilasi khas. Perbedaan batik pengaruh Cina dengan batik tradisional Indonesia berpengaruh pula pada teknik pewarnaan. Batik Jawa yang cenderung menggunakan warna berat karena berpenggunaan warna alami seperti soga, genes, kayu tiger, kayu tingi, akar pace dan sebagainya, oleh batik peranakan Tionghoa diperkenalkan hanya dengan warna primer seperti merah, biru, hijau, dan sebagainya. Pewarnaannya menggunakan pewarna kimia buatan. Bahkan batik peranakan mempelopori teknik pewarnaan primer dengan gradasi.

Di Pekalongan, seniman batik peranakan Tionghoa yang melegenda adalah Oey Soe Tjoen, Phoa Tjong Ling, dan The Tie Sit. Motif paling tersohor kemunculannya dari batik peranakan Tionghoa adalah corak bunga Seruni yang memiliki arti keanggunan dan kesejahteraan di usia senja. Ada pula motif ikan yang melambangkan kemakmuran berlimpah dan lainnya. Motif yang sarat makna tersebut dikarenakan kepercayaan dan tradisi Tionghoa yang hidup secara turun-temurun.

Batik peranakan Tionghoa paling banyak dijumpai pada batik Lasem dengan karakter Cina seperti burung hong, kilin, liong dan tulisan-tulisan dalam huruf Cina dengan makna keberuntungan. Tjoa Giok Tjiam, pembatik peranakan Tionghoa bahkan terkenal dengan batik tiga negerinya di era awal abad 19. Batik tiga negeri merupakan warna-warna tertentu dari tiga daerah. Inovasi batik ini diproses pewarnaannya di tiga daerah di Pulau Jawa seperti Solo dengan warna sogan, Pekalongan dengan warna biru, dan Lasem dengan warna merahnya.

Dari pedalaman Jawa, Solo pula melahirkan seniman batik peranakan bernama Go Tik Swan Hardjono atau lebih dikenal K.R.T. Hardjonagoro. Di era Presiden Soekarno, ia didapuk menciptakan batik Indonesia. Olehnya dilakukan berbagai riset untuk menggali pola-pola batik langka yang tidak dikenal umum maupun pola-pola tradisional lainnya. Pola-pola tersebut kemudian dikembangkan dengan warna-warna baru yang cerah, tidak saja coklat, biru, atau putih kekuningan. Warna-warna tersebut menyadur dari pewarnaan batik pesisiran yang cerah, namun dengan motif batik Vorstenlanden (Solo dan Yogya) yang terkenal sarat makna.

Sejarah akulturasi budaya asing-nasional dapat ditelusuri pada batik Indonesia. “Biar pun batik diakui oleh negara lain, tetap mereka akan mencari akar rumputnya berasal. Ini warisan kita,” pungkas Afif Syakur.

 

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

glamouritas Batik

Glamouritas Batik Indonesia Bermula Dari Keraton

batik tulis

Seni Dan Makna Kehidupan Batik