Pacitan kembali menegaskan dirinya sebagai salah satu simpul penting dalam peta ekonomi kreatif nasional, khususnya di sektor perfilman. Dari sebuah daerah pesisir yang selama ini dikenal lewat lanskap karst dan pantai selatannya, kini Pacitan perlahan membangun identitas baru: kota yang berani mengekspresikan imajinasi melalui film, terutama genre horor yang dekat dengan akar budaya dan cerita rakyat Indonesia.
Momentum itu menguat ketika Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menerima audiensi Ruang Film Pacitan di Jakarta, Selasa (23/6). Pertemuan tersebut membahas pengembangan Festival Film Horor (FFH), sebuah inisiatif yang digarap bersama Pemerintah Kabupaten Pacitan sebagai ruang apresiasi sekaligus penguatan ekosistem perfilman nasional.
Bagi Kementerian Ekonomi Kreatif, FFH bukan sekadar agenda tahunan berbasis komunitas. Festival ini dipandang memiliki potensi strategis untuk tumbuh sebagai festival film horor pertama di Indonesia yang konsisten, terkurasi, dan berorientasi pada pengembangan talenta. Lebih jauh, FFH dilihat sebagai pintu masuk bagi Pacitan untuk memperkuat posisi dalam industri kreatif berbasis cerita lokal.

“Indonesia sangat memiliki keberagaman serta keunikan dalam budaya hingga cerita horor selayaknya tambang emas baru,” ujar Menteri Ekraf. Ia menekankan bahwa kekayaan cerita rakyat dan mitologi lokal dapat menjadi bahan bakar industri film yang tidak hanya bernilai artistik, tetapi juga ekonomis. Dalam pandangannya, FFH berpeluang menjadi benchmark baru jika mampu terus dikembangkan melalui kolaborasi lintas sektor.
Di tingkat daerah, Pacitan menunjukkan kesiapan yang tidak bisa dianggap kecil. Penyelenggaraan perdana FFH pada 2025 mencatat partisipasi 285 film dari berbagai kategori, mulai dari umum, pelajar, hingga eksibisi. Angka ini menunjukkan bahwa antusiasme terhadap festival berbasis genre horor ternyata memiliki pasar dan ekosistem yang hidup di berbagai lapisan, termasuk generasi muda.
Keunikan FFH juga terletak pada ruang penyelenggaraannya. Tidak seperti festival film pada umumnya yang terkonsentrasi di gedung atau kota besar, FFH justru memanfaatkan ruang-ruang terbuka khas Pacitan, termasuk kawasan Pantai Pancer Door. Lanskap alam yang dramatis berpadu dengan atmosfer horor menciptakan pengalaman sinematik yang berbeda—sekaligus memperkuat identitas festival itu sendiri.
Ruang Film Pacitan sebagai penggerak utama festival melihat bahwa pendekatan berbasis lokasi ini menjadi kekuatan penting. FFH bukan hanya tontonan, tetapi juga pengalaman budaya yang menyatu dengan ruang hidup masyarakat. Di titik ini, Pacitan tidak hanya menjadi lokasi, tetapi juga narasi itu sendiri.
Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji menegaskan bahwa dampak FFH mulai terasa pada ekonomi lokal. Kehadiran festival mendorong pergerakan wisata, membuka ruang usaha baru, dan menghidupkan aktivitas kreatif di daerah. Menurutnya, FFH telah berkembang menjadi simpul pertemuan antara pelaku film, komunitas kreatif, dan masyarakat.
“FFH ini yang mendatangkan event lain yang menurut saya itu selama ini bisa mendatangkan wisatawan,” ujarnya. Ia juga menargetkan agar FFH 2026 dapat naik kelas melalui kolaborasi lebih luas dengan pemerintah pusat, bahkan berpotensi menjadi festival bertaraf nasional hingga global.
Tahun 2026, FFH mengusung tema “INDIGO: Melihat yang tak terlihat. Membaca yang terlupakan. Membangun yang akan datang.” Tema ini memperlihatkan ambisi yang lebih dalam: bukan sekadar merayakan horor sebagai genre, tetapi juga sebagai cara membaca ulang ingatan kolektif, mitos, dan ruang-ruang tak kasat mata dalam budaya Indonesia.
Rangkaian kegiatan FFH 2026 dijadwalkan berlangsung dari Juni hingga September, dengan malam puncak penghargaan pada 9–12 September 2026. Agenda yang panjang ini menunjukkan bahwa festival tidak lagi berdiri sebagai acara tunggal, melainkan ekosistem yang bergerak sepanjang tahun.
Di balik penguatan ini, peran komunitas seperti Ruang Film Pacitan menjadi penting sebagai motor kreatif yang menghubungkan pemerintah daerah, pelaku industri, dan talenta muda. Kolaborasi inilah yang membuat FFH tidak sekadar festival, tetapi juga ruang inkubasi bagi generasi baru sineas Indonesia.
Dari Jakarta hingga Pacitan, dari ruang rapat kementerian hingga tepi pantai Pancer Door, FFH memperlihatkan satu hal yang semakin jelas: ekonomi kreatif tidak selalu lahir dari pusat kota besar. Ia bisa tumbuh dari daerah, dari cerita lokal, bahkan dari ketakutan-ketakutan lama yang diolah menjadi karya baru yang hidup di layar lebar.

