Kain Tapis merupakan salah satu warisan budaya paling berharga dari masyarakat Lampung. Kain tradisional ini bukan hanya berfungsi sebagai pakaian adat, tetapi juga memiliki nilai filosofis, sosial, religius, dan estetika yang sangat tinggi. Hingga kini, Kain Tapis masih menjadi simbol identitas budaya masyarakat Lampung yang terus dijaga keberadaannya.
Secara umum, Kain Tapis dibuat dengan teknik tenun tradisional yang dipadukan dengan sulaman benang emas atau perak. Motif yang digunakan biasanya menggambarkan alam, tumbuhan, hewan, hingga simbol kehidupan masyarakat Lampung. Setiap motif memiliki arti tersendiri dan berkaitan erat dengan adat istiadat setempat.
Dalam kehidupan masyarakat Lampung, Kain Tapis memiliki fungsi penting dalam berbagai upacara adat seperti perkawinan, pengambilan gelar adat, khitanan, hingga upacara kematian. Bahkan, jenis kain yang digunakan berbeda tergantung status sosial dan jenis acara adat yang berlangsung.
Salah satu jenis yang paling dikenal adalah Tapis Jung Sarat. Kain ini biasa dikenakan oleh pengantin wanita dalam upacara perkawinan adat Lampung. Selain itu, Tapis Jung Sarat juga dipakai oleh para penari Cangget dan kelompok kerabat saat menghadiri acara pengambilan gelar adat.
Ada pula Tapis Raja Tunggal yang digunakan oleh kelompok istri kerabat tertua atau Tuho Penyimbang dalam upacara adat penting. Sementara Tapis Raja Medal dipakai pada acara perkawinan dan prosesi pemberian gelar adat.
Keberagaman jenis Tapis menunjukkan tingginya nilai simbolik kain ini dalam struktur sosial masyarakat Lampung. Pemakaian kain tertentu menandakan kedudukan seseorang dalam lingkungan adat.
Selain fungsi sosial, Kain Tapis juga memiliki nilai estetika yang tinggi. Bentuk motif yang rumit dan detail sulaman emas menciptakan keindahan visual yang memukau. Tidak heran jika Kain Tapis sering dijadikan koleksi budaya bernilai tinggi.
Dalam aspek ekonomi, Kain Tapis kini berkembang menjadi produk kerajinan yang memiliki nilai jual tinggi. Dahulu kain ini diproduksi hanya untuk kebutuhan adat dan keluarga tertentu. Namun seiring perkembangan zaman, Kain Tapis mulai diperjualbelikan secara luas dan menjadi sumber ekonomi masyarakat.
Meski demikian, modernisasi dan pengaruh budaya asing menjadi tantangan tersendiri bagi pelestarian budaya Tapis. Sebagian generasi muda mulai kurang mengenal nilai budaya dan filosofi di balik Kain Tapis Lampung.
Karena itu, berbagai pihak terus mendorong pelestarian budaya Tapis melalui pendidikan budaya, pameran, hingga pengembangan industri kreatif berbasis kain tradisional. Pelestarian ini penting agar generasi muda tetap mengenal akar budaya daerahnya sendiri.
Kain Tapis bukan hanya kain tradisional biasa, tetapi simbol perjalanan sejarah, identitas sosial, dan kebanggaan masyarakat Lampung yang harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sumber Berita:
BATIK LAMPUNG 2, Museum Negeri Provinsi Lampung “Ruwa Jurai”.

