Seniman multimedia Bibiana Lee memperkenalkan pendekatan baru dalam mengapresiasi batik melalui pemanfaatan teknologi Augmented Reality (AR). Dalam karya terbarunya, ia mengangkat Batik Tiga Negeri sebagai objek eksplorasi, menghadirkan pengalaman visual yang menggabungkan simbol tradisional dengan teknologi digital.

Bibiana Lee, yang lahir pada 1956, dikenal sebagai seniman yang menggabungkan isu budaya dan sosial dalam praktik artistiknya. Dalam proyek ini, ia tidak lagi menempatkan batik sebagai kain semata, melainkan sebagai kumpulan simbol yang dapat diinterpretasikan secara visual melalui teknologi. Dengan bantuan perangkat ponsel pintar, elemen-elemen batik dihidupkan dalam bentuk digital yang berinteraksi langsung dengan ruang nyata.
Batik Tiga Negeri dipilih karena merepresentasikan akulturasi budaya yang kuat, menggabungkan unsur Tionghoa, Belanda, dan Jawa. Motif-motif seperti burung, phoenix, bunga, dan gunung menjadi elemen utama dalam visualisasi karya. Secara historis, batik ini melalui proses pewarnaan di tiga wilayah berbeda, yakni Lasem, Solo, dan Pekalongan, yang masing-masing menghasilkan warna khas.

Salah satu karya yang ditampilkan memperlihatkan sosok qilin, makhluk mitologi dalam tradisi Tionghoa, yang muncul dari dalam bidang gambar melalui teknologi AR. Visual tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman interaktif sekaligus memperkenalkan makna simbolik yang terkandung dalam motif batik.
Menurut pengamat seni, pendekatan ini menunjukkan potensi teknologi dalam memperluas cara masyarakat memahami batik, tidak hanya sebagai produk tekstil, tetapi juga sebagai sistem simbol yang merepresentasikan nilai budaya. Penggunaan AR memungkinkan interpretasi yang lebih dinamis, sekaligus membuka ruang dialog antara tradisi dan inovasi.

Karya Bibiana Lee juga kerap mengangkat isu sosial, termasuk diskriminasi dan kondisi kelompok marginal. Hal ini terlihat dalam sejumlah karya sebelumnya, seperti instalasi interaktif bertuliskan I Am Not a Virus yang merespons fenomena diskriminasi selama pandemi COVID-19. Karya terbarunya dijadwalkan tampil dalam pameran On the Map di Galeri Nasional Indonesia hingga 30 Juni 2026. Pameran ini menjadi salah satu ruang bagi publik untuk melihat perkembangan praktik seni kontemporer yang menggabungkan teknologi dan warisan budaya, termasuk batik sebagai bagian dari identitas Indonesia.

