https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in

CAAIP Salurkan Bantuan Sosial untuk Korban Bencana di Sumatera, Jangkau Sumbar, Aceh Singkil, hingga Tapanuli

CAAIP menyalurkan bantuan sosial korban banjir di Sumatera, menjangkau Sumbar, Aceh Singkil, dan Tapanuli sebagai wujud solidaritas alumni.

Civitas Alumni Akademi Ilmu Pelayaran (CAAIP) kembali menunjukkan kepedulian sosialnya dengan menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak bencana banjir di sejumlah wilayah Sumatera. Aksi solidaritas ini menjadi wujud nyata empati alumni pelayaran terhadap saudara-saudara yang tengah menghadapi musibah.

Kegiatan bantuan sosial tersebut diinisiasi oleh alumni CAAIP, Budi Pramono (Angkatan ke-33) dan D. Ambarita (Angkatan ke-37). Mereka menggalang dukungan lintas alumni sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap kondisi masyarakat di daerah terdampak.

Penyaluran bantuan dilakukan melalui Politeknik Pelayaran Sumatera Barat, yang mewakili Direktur dan Sivitas Akademika, serta didukung oleh Corps Alumni Akademi Pelayaran Jakarta. Bantuan diserahkan secara simbolis kepada perwakilan pemerintah setempat, mulai dari lurah hingga ketua RT dan RW, untuk kemudian didistribusikan langsung kepada warga yang membutuhkan.

Dalam sambutannya, perwakilan Politeknik Pelayaran Sumatera Barat menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan para alumni.

“Kami mewakili Direktur dan Sivitas Akademika Politeknik Pelayaran Sumatera Barat menyerahkan sumbangan untuk korban bencana banjir di Sumatera Barat. Bantuan ini merupakan amanah dari Corps Alumni Akademi Pelayaran Jakarta. Semoga bantuan ini dapat meringankan beban masyarakat dan membantu proses pemulihan pascabencana,” ujarnya.

Bantuan ini dinilai sangat berarti, mengingat banyak warga terdampak yang kehilangan tempat tinggal, mengalami terputusnya akses jalan, serta kesulitan memenuhi kebutuhan pokok akibat banjir. Pemerintah setempat menyampaikan apresiasi atas sinergi antara alumni, institusi pendidikan pelayaran, dan masyarakat dalam merespons kondisi darurat tersebut.

Tak hanya terfokus di Sumatera Barat, bantuan CAAIP juga telah menjangkau Aceh Singkil dan wilayah Tapanuli, yang turut mengalami dampak bencana alam. Langkah ini menunjukkan bahwa solidaritas alumni pelayaran melampaui batas wilayah, dengan komitmen untuk hadir di berbagai daerah yang membutuhkan uluran tangan.

Menariknya, gerakan kemanusiaan ini juga mendapat dukungan dari alumni CAAIP yang bermukim, berasal, atau berkebangsaan Malaysia. Kontribusi lintas negara tersebut menjadi bukti kuatnya ikatan persaudaraan alumni pelayaran, sekaligus menegaskan bahwa kepedulian kemanusiaan tidak mengenal batas geografis.

Inisiator kegiatan, Budi Pramono, menegaskan bahwa bantuan ini lahir dari kesadaran kolektif alumni untuk saling membantu di saat sulit.

“Pada prinsipnya kami tidak hanya berusaha, tetapi juga berdoa. Kami berharap bantuan ini dapat membantu saudara-saudara kita di daerah terdampak, baik di Sumatera Barat, Aceh Singkil, maupun Tapanuli. Semoga masyarakat diberikan kekuatan dan ketabahan untuk bangkit kembali,” ungkapnya.

Senada dengan itu, D. Ambarita menambahkan bahwa solidaritas alumni tidak berhenti pada penggalangan bantuan semata, tetapi juga komitmen untuk terus hadir bersama masyarakat.

“Kami percaya, di setiap musibah selalu ada kesempatan untuk saling menguatkan. Alumni pelayaran akan terus berupaya hadir dan membantu secara langsung kepada masyarakat yang membutuhkan,” katanya.

Melalui kegiatan ini, CAAIP menegaskan perannya tidak hanya sebagai wadah alumni profesional di bidang pelayaran, tetapi juga sebagai komunitas yang memiliki kepedulian sosial dan kemanusiaan tinggi. Diharapkan, kolaborasi antara alumni, institusi pendidikan, dan pemerintah daerah dapat terus terjalin untuk mempercepat pemulihan serta membangun kembali harapan masyarakat terdampak bencana.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Kemenbud RI menetapkan 514 Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2025, termasuk 42 karya budaya asal Jawa Barat.

Kemenbud RI Apresiasi Warisan Budaya Takbenda 2025, Jawa Barat Sumbang 42 Karya Budaya

Selain batik, Indonesia menyiapkan tempe untuk didaftarkan ke UNESCO sebagai warisan budaya takbenda dengan target ratifikasi 2026.

Selain Batik, Tempe Disiapkan Jadi Warisan Budaya Takbenda Dunia UNESCO