https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in

Sekarjagat Kembang Kopi & Kembang Kopi Latar Pitu – Nita Kenzo

Karya Sekarjagat Kembang Kopi dan Latar Pitu menampilkan keanggunan indigo, motif kopi, dan inovasi batik Nita Kenzo.

Oleh Abdul Syukur

Dalam perjalanan panjang batik Indonesia, ada karya-karya yang tidak sekadar lahir dari tangan-tangan terampil, melainkan tumbuh dari sejarah, pengalaman, dan ingatan kolektif. Dua karya batik bertema kopi dari Ir. Mayasari Sekarlaranti—lebih dikenal sebagai Nita Kenzo—adalah contoh bagaimana batik mampu memelihara cerita alam, warisan budaya, sekaligus inovasi estetik.

Motif Kembang Kopi, yang kini menjadi ciri kuat Galeri Batik Jawa, pertama kali digambar oleh Ibu Larasati Suliantoro pada 2004, saat beliau sering mengunjungi kawasan Losari Coffee Resort & Plantation di Magelang. Dari pengamatannya terhadap tanaman kopi—daun yang rimbun, bunga yang mekar, dan buah yang membulat matang—lahirlah sebuah citra desain yang merekam keindahan tanaman yang telah lama menjadi bagian dari lanskap budaya Jawa.

Pada 2018, saat Galeri Batik Jawa memperingati satu dekade kebangkitan indigo Indonesia, Nita Kenzo mengembangkan motif tersebut menjadi bahasa visual yang lebih kaya. Komposisi daun, bunga, dan buah dipertegas sebagai motif utama pada kain dan selendang batik tulis berindigo alami. Dari tangan para pembatik terampil—Istnaini, Sarjinah, dan Yulianti—motif tersebut menemukan bentuk baru yang lebih matang dan bercahaya.

Karya pertama, Sekarjagat Kembang Kopi (kain panjang 240 x 105 cm), adalah sebuah pertemuan antara motif tradisi dan pola baru. Klowongan Kembang Kopi digambarkan sebagai untaian tanaman kopi yang berbunga dan berbuah, menjadi batas bidang Sekar Jagad yang berpola dinamis. Latar batiknya diisi dengan ragam hias Kopi Pecah—motif klasik yang mencerminkan perjalanan kopi sebagai komoditas budaya di Nusantara. Keseluruhan motif tampak menyatu, lembut sekaligus megah, diperkuat oleh pewarna indigo alami (Indigofera tinctoria) yang melalui proses pencelupan hingga 20 kali. Gradasi biru tua dan muda menghadirkan kesan teduh, dalam, dan berlapis.

Karya ini bukan sekadar indah secara visual; pada 2018, ia mendapat apresiasi internasional sebagai The Best New Product – Artisan Resources NY Now, salah satu pengakuan penting bagi batik kontemporer Indonesia.

Sementara itu, karya kedua, Kembang Kopi Latar Pitu (selendang 210 x 80 cm), memadukan motif Kembang Kopi dengan kekayaan ragam hias batik tradisional Yogyakarta. Latar selendang ini memakai tujuh motif batik Nitik: Nitik Kembang Jeruk, Nitik Kembang Pace, Nitik Kembang Dangah, Nitik Dopo Bolong, Nitik Ketonggeng, Nitik Kembang Kenongo, dan Nitik Grompol. Angka tujuh dipilih bukan sekadar estetik, tetapi filosofis—dalam kepercayaan Jawa, angka pitu melambangkan pitulungan, harapan akan pertolongan, keselamatan, dan keberkahan bagi pemakainya.

Warna biru indigo yang dicelup berulang sampai 20 kali memberi kedalaman visual pada setiap detail. Tidak mengherankan bila karya ini kemudian meraih World Craft Council – Award of Excellence for Handicrafts 2021–2022 untuk kawasan Asia Pasifik.

Dua karya ini bukan hanya pencapaian teknis, tetapi perayaan hubungan antara alam, tradisi, dan tangan perajin. Dalam motif kopi, kita menemukan narasi kesuburan Indonesia, sedangkan dalam warna indigo kita merasakan keteduhan jiwa yang merawatnya. Dan di tangan Nita Kenzo bersama para pembatiknya, keduanya menjelma menjadi karya yang mendokumentasikan batik sebagai seni yang terus bertumbuh.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Karya batik Liris Seno Babarmas menghadirkan kehalusan merawit Cirebon, spiritualitas motif liris, dan warna sogan emas khas Batik Tiga Putri.

Batik Liris Seno Babarmas – Agus Purwanto Sukrowinarso

Motif batik “Pencerahan Sidharta Gautama” Afif Syakur menghadirkan simbol mudra dan motif candi sebagai renungan spiritual menuju pencerahan.

Motif Batik Pencerahan Sidharta Gautama – Afif Syakur