Oleh Abdul Syukur
Dalam dunia batik Cirebon, ada karya-karya yang tidak sekadar menampilkan keindahan visual, tetapi juga menyingkap lapisan-lapisan rasa yang hanya dapat dirasakan lewat kehalusan proses. Batik Liris Seno Babarmas, karya batik tulis berukuran 105 x 250 cm yang diciptakan Agus Purwanto Sukrowinarso pada tahun 2018, adalah salah satu karya yang memadukan disiplin teknik, keluhuran filosofi, serta garis batin seorang perajin yang tumbuh dalam tradisi agung Trusmi.
Motif ini lahir dari interpretasi Agus terhadap motif klasik Parang, yang di Cirebon dikenal sebagai Liris. Sebagai seorang pembatik dari keluarga maestro Masina, Agus memahami bahwa motif bukan sekadar bentuk, melainkan perwujudan nilai. Karena itu ia memasukkan unsur Seno—yang memiliki padanan dengan sinom, pucuk daun muda—sebagai simbol kehidupan yang sedang tumbuh, pembaruan yang menjanjikan, serta permulaan yang penuh harapan. Dengan sentuhan batinnya, ia mengubah Liris menjadi gambaran ritme kehidupan: dinamis, bergerak, namun tetap tertata dalam harmoni.
Motif liris sendiri, bila dilihat sekilas, mungkin tampak sederhana: garis-garis halus yang berulang. Namun sesungguhnya, ia adalah ujian kesabaran dan ketelitian seorang pembatik. Dalam tradisi Cirebon teknik ini disebut wit-merawit atau batik merawit, proses yang menuntut jarak garis yang sangat rapat, kecil, dan halus seperti helaian rambut. Ketepatan membatik dalam ukuran garis antara 0,1—0,3 milimeter menjadi penentu kualitas sebuah karya. Setiap goresan lilin bukan hanya tentang keterampilan, tetapi tentang pengendalian diri, ketenangan batin, dan ketekunan yang tidak pernah tergesa.
Falsafah inilah yang membuat motif Liris Cirebon memiliki kedalaman spiritual tersendiri. Seperti ditulis dalam Batik Makna & Jiwa oleh Komarudin Kudiya, Liris adalah simbol “pusaka rasa dan wibawa ning batin”—sebuah pemahaman bahwa keindahan lahir adalah pantulan dari kemurnian batin. Meskipun tampak ringan dan bebas, motif ini membawa dimensi spiritual yang halus namun kuat: keindahan yang tidak diucapkan, tetapi dirasakan.
Agus P. Sukrowinarso meneruskan falsafah itu melalui rumah produksi Batik Tiga Putri miliknya. Dalam karya Liris Seno Babarmas ia memilih gaya pewarnaan Sogan Babarmas, ciri khas Cirebon dengan sentuhan warna emas yang memberikan efek megah namun tetap lembut. Sogan yang digunakan bukan sekadar warna, tetapi penanda tradisi yang diwariskan turun-temurun, sekaligus identitas yang membedakan batik Cirebon dari daerah lain.
Kombinasi antara teknik merawit yang sangat rumit, kedalaman filosofi motif Seno, serta karakter warna Sogan Babarmas menjadikan karya ini bukan sekadar batik, tetapi narasi yang terjalin lewat garis-garis halus. Ia menyiratkan perjalanan, doa, kesabaran, sekaligus kebanggaan seorang pembatik yang menjaga warisan keluarganya.
Liris Seno Babarmas adalah pengingat bahwa batik bukan hanya kain—ia adalah pembacaan batin tentang kehidupan, ditulis lewat garis-garis yang tidak pernah kehilangan arah.

