Ditulis oleh: Abdul Syukur
Ada perjalanan batin yang kadang justru tumbuh jauh dari tanah asal. Begitu pula kisah Waritri Mumpuni, seniman batik yang lahir di Yogyakarta, namun menemukan ruang kreatifnya di Deli Serdang, tanah Melayu Tua di Sumatra Utara. Keputusan mengikuti tugas kerja sang suami—seorang akademisi batik di Universitas Negeri Medan (UNIMED)—membawa Waritri pada perjumpaan baru: sebuah ruang budaya yang pelan-pelan menjadi rumah bagi pencarian artistiknya.
Waritri mungkin berakar dari tradisi Jawa, tetapi kreativitasnya justru mekar ketika ia mencoba menghayati filosofi Hamemayu Hayuning Bawana dalam suasana budaya Melayu. Di tanah baru ini, ia belajar memandang batik dengan cara yang berbeda—bukan hanya sebagai simbol Jawa, melainkan sebagai medium untuk menyatukan nilai, estetika, dan identitas lintas budaya.
Batik sebagai Jembatan Dua Dunia
Selama tinggal di Deli Serdang, Waritri tenggelam dalam kekayaan adat dan bentuk visual Melayu. Ia mempelajari motif-motif tradisional, makna-maknanya, dan kebiasaan masyarakat yang menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari. Ketekunannya membuatnya dipercaya masuk dalam tim perumus motif Melayu-Serdang, sebuah peran yang menunjukkan bahwa ia bukan sekadar pendatang, tetapi bagian dari komunitas budaya yang ia cintai.
Puncak kekaguman itu ia wujudkan dalam karyanya yang lahir pada tahun 2025:
“Keindahan Deli Serdang”, sebuah batik tulis pada kain katun berukuran 250 x 105 cm.
Kanvas kain itu menjadi ruang dimana dua dunia berpadu—rasa Jawa yang halus dan struktur estetika Melayu yang tegas, anggun, dan penuh simbol.
Motif yang Menyimpan Jejak Adat dan Sejarah
Dalam karya ini, Waritri merangkai berbagai motif Melayu klasik yang masing-masing memuat sejarah dan filosofi panjang.
Tepak Sirih hadir sebagai simbol penghormatan. Dalam adat Melayu, tepak sirih adalah uborampe untuk menyambut tamu kehormatan—cerminan tata krama, doa, dan keanggunan budaya.
Bunga Raya, atau bunga sepatu, menjadi lambang keindahan dan harapan. Dalam tradisi Melayu, bunga ini juga mengandung makna semangat juang dan cinta yang harmonis.
Pucuk Rebung melambangkan pertumbuhan dan kemajuan. Motif ini di banyak daerah Nusantara digunakan sebagai tumpal, tetapi di tangan Waritri, ia menjadi penghubung antara masa lalu dan masa depan Melayu Deli.
Dan yang paling menarik, hadirnya Daun Tembakau, jejak kejayaan ekonomi dan budaya Kesultanan Melayu Deli pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Motif ini membawa narasi sejarah yang jarang diangkat dalam batik kontemporer.
Ritme Diagonal: Tradisi yang Bergerak Maju
Waritri memilih menyusun motif-motif itu dalam pola diagonal, menciptakan irama visual yang dinamis—sebuah pendekatan modern yang tetap menjunjung akar tradisional. Pola ini membuat karya terasa hidup, mengalir, dan bergerak, seolah membawa penonton menyusuri perjalanan waktu dalam budaya Deli Serdang.
Warna dasar kuning dan keemasan memberi kesan kejayaan dan keagungan, warna-warna yang sangat dekat dengan identitas Melayu. Garis merah memberi ketegasan semangat, sedangkan paduan hitam, hijau, dan putih menghadirkan harmoni yang menenangkan.
Di tangan Waritri, kain menjadi lanskap warna dan simbol, tempat tradisi tidak hanya diabadikan, tetapi dihidupkan kembali melalui interpretasi personal seorang seniman.
Identitas yang Menjelma dalam Kain
“Keindahan Deli Serdang” bukan sekadar karya seni; ia adalah representasi identitas. Batik ini menyuarakan bagaimana budaya dapat berpindah, menyapa, dan membentuk seseorang. Waritri tidak hanya membuat batik, ia membuat pernyataan rasa—bahwa penghormatan terhadap budaya bisa tumbuh dari ketulusan, dari proses memahami, dan dari kerendahan hati untuk menjadi bagian dari sebuah komunitas.
Melalui karyanya, Waritri mengajak kita melihat Deli Serdang bukan hanya sebagai daerah geografis, tetapi sebagai ruang budaya yang kaya, anggun, dan berakar kuat pada simbol-simbolnya. Karyanya adalah jembatan yang merayakan tradisi Melayu dengan cara yang lembut namun tegas.
Dan pada akhirnya, batik karya Waritri Mumpuni menjadi bukti bahwa keindahan bisa lahir dari pertemuan dua dunia, dan seorang seniman menemukan jati dirinya justru ketika ia belajar mencintai tempat yang menjadi rumah bagi perjalanan kreatifnya.

