Jakarta – Balai Kota Jakarta berubah menjadi panggung pertemuan antara tradisi dan modernitas. Komunitas Kebaya Jakarta yang dipimpin Happy Djarot menampilkan peragaan busana yang tidak hanya memperlihatkan keindahan kain, tetapi juga menghidupkan kembali kisah-kisah lama tentang masyarakat Betawi dan peran mereka dalam membentuk karakter Jakarta.
Desainer Eni Joe menjadi sorotan dengan karyanya yang menampilkan koleksi kebaya menggunakan batik Betawi berpadu sentuhan Eropa. Koleksi tersebut menyampaikan pesan visual bahwa budaya tidak statis, melainkan terus tumbuh dan berdialog dengan zaman.
“Betawi adalah hasil akulturasi budaya. Dari Arab, Tionghoa, hingga Eropa. Saya ingin menunjukkan wajah Jakarta yang terbuka, yang menyambut semua orang,” ujar Eni Joe.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan dukungan penuh pada acara ini. Gubernur Jakarta Pramono Anung membuka acara dengan menegaskan pentingnya langkah nyata dalam melestarikan budaya Betawi, terutama menjelang peringatan 500 tahun Jakarta.
“Jakarta membutuhkan lembaga adat Betawi, yang hingga kini belum ada. Keberadaan lembaga ini sangat penting agar budaya Betawi bisa berkembang, hidup, dan memberi identitas kuat bagi Jakarta sebagai kota global,” kata Pramono.
Perhatian juga datang dari tokoh publik. Dewi Soekarno, istri Wakil Gubernur Rano Karno, hadir sebagai penasihat komunitas Kebaya Jakarta. Sementara itu, sejumlah tokoh perempuan seperti Chuchu Liu, Titi Rungkat, dan Ervi Meirzani tampil sebagai muse dalam koleksi Eni Joe.
Bagi penyelenggara, peragaan ini lebih dari sekadar pertunjukan mode. Kebaya yang diperagakan bukan hanya simbol keanggunan perempuan, tetapi juga pesan bahwa sejarah leluhur akan terus hidup selama ia dipakai, dirayakan, dan diberi kehidupan baru.
Di tengah wajah Jakarta yang dipenuhi gedung pencakar langit, jalan layang, dan kemacetan, malam itu Balai Kota seakan mengembalikan Jakarta pada jati dirinya: sebuah panggung pertemuan dunia, tempat sejarah dan inovasi berjalan beriringan.

