https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Kaum Tradisionalis dan Modernis Batik: Ini Pendapat Dudung Aliesyahbana

Dudung Aliesyahbana mengungkapkan perihal tradisi dan inovasi batik untuk membuka ruang teknologi, dan menggugah kesadaran generasi baru.

Di tengah riuhnya Gelar Batik Nusantara 2025 di Pasaraya Blok M, satu suara yang tetap lantang dan reflektif adalah suara Dudung Aliesyahbana. Pembatik senior ini bukan sekadar pengrajin kain bermotif, melainkan seorang pemikir budaya yang sudah puluhan tahun hidup dalam denyut dan dinamika batik Indonesia.

Dalam percakapan hangat, Dudung mengulas persoalan klasik yang kerap membelah dunia batik: antara mereka yang berpola pikir tradisional dan mereka yang berpola pikir modern. Bukan dalam konteks siapa yang lebih benar, tapi sebagai dua kutub yang semestinya saling mengisi.

Tradisi sebagai Akar, Modernitas sebagai Cabang

“Saya ada hari ini karena masa lalu,” tegas Dudung. Ia tak menampik pentingnya konservatisme dalam menjaga batik sebagai warisan budaya. Orang-orang yang menjaga teknik tradisional, seperti mencanting dengan tangan, memakai malam panas, dan menenun dengan alat-alat lama, disebutnya sebagai “penjaga nilai” yang mulia. Namun, ia juga menekankan bahwa budaya bukanlah benda mati. “Budaya itu hidup, bukan sesuatu yang mandek,” lanjutnya.

Pengalaman pribadinya menjadi bukti betapa sengitnya benturan pandangan ini. Ia pernah dicap “pembatik liar”, bahkan “pembatik murtad”, hanya karena mencoba mendobrak pakem. Tapi Dudung justru memilih untuk memahami. “Saya menghormati semua persepsi,” ujarnya tenang.

Batik di Simpang Jalan Global

Dudung menyadari, sejak UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya tak benda pada 2009, dunia melihat batik dari berbagai sudut pandang: oriental, western, hingga tribal. Maka pertanyaannya, mengapa Indonesia sebagai pemiliknya justru menolak ekspansi makna dan bentuk?

“Kalau kita daftar ke UNESCO, tapi menolak pengembangan pengetahuan dan ekonomi di dalamnya, ya nggak konsisten,” katanya lugas.

Teknologi seperti fraktal, AI, bahkan ChatGPT, baginya bukan ancaman. Asal tetap berpijak pada akar: keterampilan manual, alat tradisional, dan nilai-nilai budaya. “Yang diwariskan itu keterampilannya, alatnya. Bentuknya? Silakan berkembang. Kita tidak mewarisi benda, tapi mewarisi nilai.”

Kritik pada Komersialisasi dan Sertifikasi

Dudung juga menyorot ironi dalam dunia batik kontemporer: eksploitasi motif oleh industri printing dan langkah-langkah birokratis seperti sertifikasi halal. Ia menyindir, “Buat saya, masih lebih masuk akal orang yang mengeksplorasi motif dengan jiwanya sendiri daripada mereka yang mencetak jutaan meter motif batik pakai mesin.” Bahkan, ia menyebut fenomena “spanduk batik” sebagai bentuk kehilangan rasa.

Tentang sertifikasi halal? Ia tak segan menyebutnya “kebodohan massal”. Bagi Dudung, warisan kultural seperti batik tak sepatutnya tunduk pada komodifikasi keagamaan. “Cuci tujuh kali saja, nggak usah bayar 8 juta,” ujarnya, mengutip guyonan para pembatik di Pekalongan yang tak sependapat dengan batik halal.

Menghubungkan Generasi

Dudung tidak ingin perdebatan soal batik berhenti pada soal teknik atau motif. Baginya, ini adalah soal arah budaya dan keberlangsungan pengetahuan. Kepada para pembatik senior, ia berpesan untuk tidak terjebak dalam romantisme masa lalu. “Kalau lampu sudah padam, penonton sudah bubar, jangan masih teriak-teriak di panggung.”

Sebaliknya, ia mengajak generasi muda untuk masuk ke dunia batik dengan cara mereka sendiri: lewat antropologi, desain, teknologi, atau bahkan lingkungan hidup. Tapi masuklah dengan kesadaran, bukan sekadar mengejar profit.

“Bangsa ini udah ngasih warisan luar biasa: batik. Diakui UNESCO. Punya nilai ekonomi, filosofi, dan pengetahuan. Tapi jangan cuma ambil ekonominya. Kuasai semuanya.”

Batik adalah Jembatan

Antara yang tradisional dan yang modern, Dudung Aliesyahbana tidak memilih satu sisi. Ia memilih jembatan — menghubungkan masa lalu dengan masa depan, konservatisme dengan inovasi, nilai dengan teknologi. Baginya, warisan tidak untuk dipertahankan mati-matian atau dirombak habis-habisan, tapi untuk dihidupi — dengan jiwa, dengan nalar, dan dengan keberanian untuk terus bertanya: “Kita ini mau ke mana?”

Dan mungkin di situlah letak kekuatan batik — bukan hanya sebagai kain, tapi sebagai ruang kontemplasi tentang siapa kita, dan siapa yang ingin kita jadikan.

Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Menperin ajak generasi muda jadikan batik bagian gaya hidup kekinian. Cinta batik? Jangan cuma bangga, ayo pakai dan beli!

Menperin Dorong Generasi Muda Pakai Batik Sehari-hari

Agus Purwanto, pendiri Batik Tiga Putri, jaga warisan batik Cirebon lewat batik tulis merawit penuh cerita, cinta, dan nilai budaya.

Agus Purwanto: Kisah Cinta Batik Cirebon