https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

“Batik for the World”: Ketika Indonesia Menyentuh Panama Lewat Kain dan Budaya

Batik for the World di Panama promosikan kekayaan budaya Indonesia lewat pameran, workshop, dan peragaan busana batik yang memukau.

Langit Panama pagi itu cerah, seolah ikut menyambut semangat Indonesia yang tengah hadir di jantung kawasan Amerika Latin. Di gedung Parlemen Amerika Latin (Parlatino), aroma malam dan warna-warna batik mulai mengisi ruang-ruang megah. Tanggal 20 Mei 2024 menjadi saksi bagaimana semangat Batik For The World mulai menggeliat di tanah asing, dalam sebuah misi diplomasi budaya yang lembut namun kuat.

Duta Besar Indonesia untuk Panama, HE Sukmo Harsono, membuka acara dengan senyum penuh percaya diri. Bersamanya berdiri tokoh-tokoh penting: Sekretaris Jenderal Parlatino Mr. Elias Castillo, Wakil Menteri Luar Negeri HE Yill Otero, dan Ketua Korps Diplomatik SER Dagoberto Campos. Mereka menyaksikan bagaimana batik—dengan pola, warna, dan cerita yang unik—bertransformasi menjadi duta besar visual dari negeri kepulauan.

Pameran batik yang dibuka untuk umum sejak 20 hingga 24 Mei itu bukan sekadar pajangan kain. Ia adalah lorong waktu dan ruang yang memperlihatkan teknik-teknik berbeda: dari tulis, cap, hingga kombinasi keduanya. Dari motif tradisional pesisir hingga simbol-simbol keraton. Setiap kain memiliki asal, punya makna, dan membawa pesan dari ribuan kilometer jauhnya.

Semangat tak berhenti di sana. Di Ciudad de Las Artes, aroma malam panas menyeruak dari canting yang bergerak di tangan-tangan penasaran. Para peserta workshop batik—warga Panama dari berbagai latar belakang—belajar menggambar motif di atas kain, melapisinya dengan lilin lebah, mencelupkannya dalam pewarna, lalu menjemurnya dengan rasa bangga. Indah Dary, seorang desainer asal Indonesia, memimpin jalannya proses dengan sabar, didampingi rekan-rekannya dan dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan Panama. Wajah-wajah ceria memenuhi ruangan; membatik tak hanya menjadi proses kreatif, tapi juga jembatan budaya yang hangat.

Dan ketika malam tiba pada 22 Mei, gaun-gaun batik melayang indah di atas panggung Hotel Sortis. Inilah puncak: Malam Kebudayaan yang glamor namun tetap mengakar. Diiringi musik dan tepuk tangan, para pejabat tinggi dan duta besar dari berbagai negara—termasuk dari Korea Selatan, Kanada, dan Republik Dominika—berjalan dalam peragaan busana. Batik dikenakan dengan bangga, seakan menjadi kulit kedua yang menyatukan beragam bangsa dalam satu bahasa: keindahan.

Desainer dari dua benua, Indonesia dan Panama, menampilkan karya terbaik mereka. Nama-nama seperti Indah Dary, Era Krisna, Adinda Moeda, hingga Jessicka Williams dan Grace menorehkan cerita mereka lewat garis dan warna. Tari Bali Mex membuka dan menutup malam dengan anggun; irama gamelan dan gerak para penari menghipnotis hadirin yang tak henti berdecak kagum.

Keesokan harinya, suasana lebih intim namun tak kalah bermakna tercipta di KBRI Panama. Sebanyak dua puluh mahasiswa seni dari Universidad de Panama duduk bersila, tangan mereka sibuk menorehkan malam ke kain putih. Mereka bukan sekadar belajar membatik, tetapi juga menyentuh lapisan terdalam dari budaya Indonesia: kesabaran, ketekunan, dan cinta terhadap warisan leluhur.

Dalam empat hari yang padat namun penuh makna, batik bukan hanya dikenalkan, tetapi juga dirasakan, dipahami, dan dicintai. “Batik For The World” bukan hanya tentang promosi budaya—ia adalah kisah perjumpaan dua dunia yang berbeda, yang dipersatukan oleh garis-garis canting dan kain yang berbicara tanpa kata.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Konsep waktu di masyarakat Barat menekankan arah linear, kontrol manusia atas waktu, dan produktivitas serta pencapaian tujuan hidup.

Konsep Waktu dalam Pandangan Masyarakat Barat: Mengelola, Bukan Diperbudak

Kebaya Kembang milik Aprilin Widya tampil di Indonesian Fashion Week menghantarkan ketradisionalan kebaya bertemu masa kini.

Kebaya Kembang Aprilin Widya Tampilkan Elegansi Motif di Indonesia Fashion Week 2025