Di tengah derasnya arus industri cepat saji, seorang perempuan muda dari Padang, Sumatera Barat, memilih jalan sunyi: melestarikan batik tulis tradisional. Namanya Shekar Hanum Pramesty, lulusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Padang (UNP), yang kini menjadi perajin batik tanah liek dengan merek Shanumesty—brand yang lahir dari kecintaannya pada seni sejak masa sekolah kejuruan.
Perjalanan Hanum dimulai pada 2020 saat ia bergabung dengan tim produksi Batik Tarancak di Solok. Pengalaman itu menjadi fondasi keterampilannya, hingga pada 2023 ia mulai menerima pesanan dengan brand sendiri. Tekadnya berbuah manis—tahun 2024 Hanum meraih Juara I Pelopor Muda Kota Padang dan Juara II tingkat Provinsi Sumatera Barat dalam kategori Seni dan Budaya.
“Saya ingin membuktikan bahwa kerajinan batik bukan lah bidang yang terpinggirkan,” ujarnya dalam Apresiasi Budaya Minangkabau, dikutip dari RRI. “Masa depan bisa dibangun dari apa yang kita tekuni.”
Menjaga Warna Alam dalam Batik Tanah Liek
Yang membuat Shanumesty berbeda adalah teknik batik tanah liek, proses pewarnaan menggunakan tanah liat. Kain putih direndam selama beberapa hari hingga menghasilkan warna coklat alami yang khas. Teknik ini kemudian dipadukan dengan wax-resist (lilin) tradisional sehingga tiap karya memiliki karakter yang unik.
Selain tanah liek, Hanum juga menggunakan pewarna alami lain—membangkitkan identitas Sumatera Barat melalui warna-warna bumi.
Ia juga menegaskan pentingnya edukasi: banyak masyarakat belum bisa membedakan batik tulis dan batik cap. “Batik tulis punya pola yang tembus dua sisi dan aroma lilin yang khas,” jelasnya. “Batik cap hanya di satu sisi.”
Karya Eksklusif, Proses yang Tidak Bisa Disamakan Mesin
Di Shanumesty, proses dimulai dari kain putih polos, lalu motif digambar sebelum dicanting. “Tahap canting adalah yang paling sulit. Kalau garisnya rapi, warna pun tidak lari,” kata Hanum.
Harga produk pun mengikuti kerumitan: satu set sarung–selendang batik cap mulai Rp400.000, sementara batik tulis bisa mencapai Rp1,8 juta. Proses pengerjaan satu desain bisa memakan waktu 2–4 minggu, bahkan lebih jika motifnya rumit.
“Setelah satu karya selesai, tidak ada yang sama lagi. Itulah keunikan batik tulis,” tambahnya.
Mengajar, Berbagi, dan Membangun Ekosistem Batik
Meski masih merintis, Hanum aktif berbagi ilmu. Pada 2023 ia mengadakan pelatihan membatik gratis, menerima kunjungan instansi, hingga memperkenalkan batik pada anak-anak melalui motif kartun. Ia juga menjalin kolaborasi dengan Batik Tarancak Solok dan SMK Negeri 4 Padang untuk membuka kesempatan magang bagi siswa.
Namun perjuangannya belum tanpa kendala. Hingga kini Shanumesty beroperasi di teras rumah orang tuanya yang kecil, rentan hujan dan angin. “Cobalah melakukan kegiatan positif selagi muda, karena kesempatan tak datang dua kali,” kenangnya akan pesan orang tua.
Ruang Produksi Lebih Layak dan Pasar Lebih Luas
Ke depan, Hanum berharap Shanumesty memiliki ruang produksi yang memadai, mampu menciptakan lapangan kerja, dan menjadi tempat belajar bagi generasi muda seni kriya.
“Saya ingin mereka melihat bahwa jurusan ini bukan sesuatu yang dipandang sebelah mata, tetapi jalan menuju peluang besar dan kemandirian,” ujarnya.
Di tangan Hanum, batik tanah liek bukan sekadar kain. Ia adalah warisan, identitas budaya, dan bukti bahwa keindahan dapat lahir dari proses yang penuh kesabaran.

