Dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional ke-16, Olifant School bekerja sama dengan Persatuan Pecinta Batik Indonesia (PPBI) Sekar Jagad menyelenggarakan acara budaya bertema “Yogya, Kota Batik Dunia Kita Bersama” pada Jumat, 3 Oktober 2025. Bertempat di Sekolah Olifant, Sleman, kegiatan ini menjadi ruang belajar interaktif bagi siswa untuk mengenal batik lebih dekat sebagai warisan budaya bangsa.

Ketua Dewan Penilaian PPBI Sekar Jagad, Suhartanto, menegaskan pentingnya menanamkan kecintaan terhadap batik sejak dini. “Kita perlu generasi muda untuk merangkul batik. Mungkin suatu hari nanti, mengenakan batik secara teratur akan menjadi norma,” ujarnya. Ia juga mengingatkan agar masyarakat menghargai batik autentik yang dibuat melalui proses cap, tulis, atau kombinasi keduanya—sebuah karya budaya yang sarat makna dan melibatkan perajin lokal.
Acara ini juga menghadirkan diskusi budaya bersama Laretna Trisnantari Adishakti (Sita) dan Karina Rima Melati dari PPBI Sekar Jagad. Mereka mengupas sejarah Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia, filosofi poros kosmologi, hingga pentingnya menjaga standar batik asli di pusat wisata seperti Malioboro. “Batik adalah jati diri bangsa. Motif apa pun boleh, asalkan prosesnya melibatkan lilin—itulah yang menjadikannya batik sejati,” tegas Karina.
Suasana semakin meriah dengan peragaan busana “Batik dalam Kehidupan Masyarakat Yogyakarta” yang menggambarkan peran batik di setiap fase kehidupan, serta peluncuran buku berjudul sama. Siswa-siswi Olifant berperan aktif sebagai MC, moderator, dan model, menunjukkan antusiasme mereka dalam memahami filosofi batik dan makna “Siklus Hidup Batik”.
Melalui kegiatan ini, Olifant School berharap dapat menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya Indonesia serta memperkuat kedudukan Yogyakarta sebagai kota batik dunia. Kolaborasi antara lembaga pendidikan dan komunitas budaya ini menjadi langkah nyata dalam menjaga batik sebagai identitas nasional dan sumber inspirasi lintas generasi.

