Nurohmad, pelopor inovasi canting cap kertas, seniman batik, sekaligus pemilik Omah Kreatif Dongaji asal Yogyakarta, baru-baru ini mempresentasikan karya terbarunya yakni batik weton. Batik ini dibuat dengan menggunakan simbol-simbol dan warna berdasarkan kaidah hari dan pasaran dalam weton.

“Batik weton yang dimaksud disini adalah menciptakan batik yang mengambil simbol-simbol dan warna (kaidah) dalam weton ( hari dan pasaran). Melalui weton tersebut, mencoba untuk divisualkan menjadi sebuah komposisi motif beserta aturan warnanya dalam produk atau karya batik,” sergah Nurohmad menjelaskan ide dasar dari pembuatan batik weton miliknya.
Seperti diketahui, masyarakat Jawa memiliki lima jumlah pasaran atau pancawara, yaitu legi, pahing, pon, wage dan kliwon. Pasaran tersebut disematkan di belakang nama hari-hari yang kita kenal saat ini (pancawara) yakni Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Ahad (Minggu).

Kombinasi hari dan pasaran didasarkan atas panduan penghitungan saptawara dan pancawara, ditempatkan secara berurutan dan berulang-ulang, berlaku selama 35 hari. Contohnya, Senin legi, Selasa pahing, Rabu pon, Kamis wage, Jumat kliwon, Sabtu legi, Minggu paing dan seterusnya. Kombinasi hari dan pasaran ini oleh masyarakat Jawa digunakan sistem penghitungan waktu, atau juga sebagai penanda lahir seseorang berikut dengan karakter bawaannya.
“Jadi idiom-idiom warisan leluhur yang kembali di reinterpretasikan hari ini menjadi karya batik yang nantinya akan ada 35 karya batik weton,” tambahnya.

Secara kosmologis, pasaran memiliki arah angin dan menyimbolkan warna-warna tertentu seperti:
- Pasaran legi bertempat di Timur, mengandung unsur udara dan memancarkan cahaya putih
- Pasaran pahing bertempat di Selatan, yang mengandung unsur api dan memancarkan cahaya merah.
- Pasaran pon bertempat di Barat, yang mengandung unsur air dan memancarkan cahaya kuning.
- Pasaran wage bertempat di Utara, yang mengandung unsur tanah dan memancarkan cahaya hitam.
- Pasaran kliwon bertempat di pusat (episentrum), mengandung unsur suksma atau jiwa dan memancarkan cahaya abu-abu.
Batik weton dipresentasikan dalam Pameran & Babaran Batik Weton di Equalitera Artspace, Yogyakarta (14/11). Kegiatan tersebut dihadiri oleh sejumlah seniman batik seperti Sapuan, Gandar Setiawan, Dudung Alisyahbana, Bayu Aria, Muhammad Zaenudin, Dias Prabu, Erica, Franky Sutejo, Made Sukanadi, Abdul Syukur, Bayu Permadi, Yunanda, dan Elis Fatmawati.
Nurohmad mem-visual-kan warna-warna tersebut berikut dengan simbol-simbol yang lekat pada hari dan pasaran tersebut. Selain arah mata angin dan warna, juga ada unsur-unsur gambar seperti binatang, burung, pohon dan elemen lainnya.
“Pameran babaran batik weton ini adalah serangkaian dari kegiatan workshop pembuatan motif batik melalui metode weton dengan menggunakan canting cap kertas. Peserta pameran adalah peserta workshop, terdiri dari 5 kelompok dari kabupaten di Yogya dan satu kelompok disabilitas.”
Batik weton seperti mengukuhkan personalisasi batik, yakni proses mendesain dan memproduksi batik dengan motif, warna, atau tema yang disesuaikan dengan keinginan atau kebutuhan individu, organisasi, atau komunitas tertentu.
“Dalam rangkain kegiatan tersebut dilengkapi pula dengan menerbitkan buku “Membabar Batik Weton.” Seluruh kegiatan ini tentang preservasi weton dalam batik dengan canting cap limbah kertas kemasan,” pungkasnya.

