Di ruangan berukuran sekitar 20 meter persegi, tampak seorang nenek menuangkan malam canting di atas kain mori (kain batik). Dialah Tati Soephihajarniwati, lansia yang 20 tahun lebih melestarikan batik Singosaren atau batik Singosari.
Kini, nenek berusia 91 tahun itu dipercaya menjadi pembina Karang Werda Pandu Dewanata. Masa tuanya dihabiskan dengan membatik, sekaligus mengajari para lansia membatik di Desa Randuagung, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Tiga di antaranya telah mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum dan HAM (KemenkumHAM) pada 2017 lalu.
Motif tersebut yakni stelasi aksesori Ken Dedes Prayitna Paramitha. Dalam stelasi, terdapat tiga motif yang disebut adi luhung, trisila, dan paripurna.
Di dalam motif Adi Luhung terdapat satu unsur penting. Yakni pending, bermakna kekeluargaan. ”Indonesia itu big family. Mbahnya, anaknya, dan cucunya masih tinggal di rumah yang sama. To live together at home,” ujar Eyang Tati sembari membatik.
Di sela-sela menimpa sketsa menggunakan malam, perempuan asli Probolinggo itu menjelaskan makna mofit Adi Luhung. Ukiran di tengah menggambarkan kakek-nenek, sisi kanan menggambarkan anak, dan sisi kiri adalah sosok cucu.
”Maknanya, anak dan cucu harus diperlakukan sama. Agar cucu tidak bersikap buruk terhadap orang tuanya, bahkan kakek dan neneknya,” terang ibu dua anak itu.
Dia juga menjelaskan filosofi Adi Luhung yang berbentuk bunga dengan lima kelopak. ”Karena mayoritas Islam, saya memakai rukun iman sebagai landasan. Iman terhadap hari kiamat serta takdir dan qadar saya jadikan satu,” kata Eyang Tati yang mempunyai sembilan adik tersebut.
”Karena, manusia hanya bisa mengetahui takdir dan qadar. Sementara Kiamat hanya diketahui oleh Allah SWT. Namun manusia harus memercayai. Dengan begitu, motif ini juga membentuk Pancasila,” tambahnya.
Baginya, semua unsur Pancasila harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sila pertama, ketuhanan yang Maha Esa diterapkan dengan beribadah.
Serta, kemanusiaan yang adil dan beradab melalui kegiatan sosial, seperti berbagi dengan sesama.
Selain itu, lima kelopak tadi juga menggambarkan lima larangan Allah. Yakni ojo manembah sak liyane Allah (jangan menyembah selain Allah).
Ojo pek pinek barange liyan (jangan mengambil barang orang lain). Ojo ngerusak pranatane negara (jangan merusak tata negara).
Oro mangan panganan kang ngerusak badan (jangan mengonsumsi makanan yang merusak badan). Ojo cecongkrahan, welas asiho (jangan bermusuhan, berbelas kasihan lah).
“Orang tua zaman dahulu pasti memahami lima hal itu. Sayangnya, sekarang tidak pernah diajarkan (kepada generasi muda),” kata dia.
Motif pokok tersebut harus selalu ada dalam batik khas Singosari. Dalam sebuah batik, terdapat tiga jenis motif. Yakni motif pokok, sampingan, dan isen-isen.
Motif pokoknya yaitu salah satu bentuk stelasi. Motif sampingan dibebaskan sesuai kreasi pembatik, dan isen-isen untuk meramaikan batik agar lebih bervariasi.
Ketika remaja, Eyang Tati pernah diberi wejangan oleh Presiden Pertama RI, Soekarno. Kala itu, Tati remaja menjadi siswi sekolah kebidanan di RST Lima Brawijaya, tahun 1950.
“Saya ingat Bung Karno pesan sama saya waktu masih sekolah bidan,” kata dia sembari matanya menerawang, seolah mengingat masa lalu.
“Dia bertanya, kamu ingin menjadi bangsa yang besar? Saya menjawab dengan tegas, ‘Pasti! Dia lantas melanjutkan, ‘Dengar! Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati leluhurnya’,” kata Eyang Tati menirukan perkataan Bung Karno sekitar 73 tahun silam.
Berbekal wejangan Bung Karno itulah Eyang Tati membulatkan tekad untuk melestarikan budaya, salah satunya batik. Itulah cara dia menghormati leluhur.
Pensiunan bidan Rumah Sakit Tentara (RST) Dr Soepraoen itu lantas membuka kelas membatik. Dalam kelasnya, dia selalu menjelaskan asal-usul Ken Dedes dan Ken Arok.
Supaya orang-orang, khususnya warga Singosari memahami leluhurnya, yakni dua tokoh kerajaan tersebut.
”Bagaimana orang-orang bisa menghormati leluhurnya, jika mereka saja belum mengenalnya,” ucap Eyang Tati.
Setelah 20 tahun mengajar batik, Eyang Tati berkesempatan mengenalkan batik di kancah internasional. Kala itu, dia mengikuti kegiatan di Singapura.
Di hadapan perwakilan dari negara-negara lain di dunia itu, dia mengenalkan batik Singosaren.
Awal mula suka membatik saat menjadi anggota Pembantu Perwakilan Yayasan Gerontologi Abiyoso (PPYGA) Kecamatan Singosari. Ketika ditunjuk menjadi ketua PPYGA pada 2003 lalu, Eyang Tati merasa memiliki tanggung jawab lebih besar.
“Saat itu saya berpikir, apa yang bisa saya berikan sebagai ketua? Tidak mungkin saya hanya modal bicara selama menjadi ketua. Makanya saya memilih mengajar dan mengenalkan batik Singosari ini,” kata perempuan berhijab itu.
Mulanya dia hanya mengajar lansia. Lambat laun, mulai membuka kelas untuk pemuda. Sebab, jika budaya tersebut tidak segera dikenalkan, pemuda bisa lupa.
Kini, untuk meningkatkan perekonomian lansia di desanya, Eyang Tati mendirikan Usaha Ekonomi Produktif (UEP). Program yang diresmikan pada 2020 itu sudah memiliki sekitar 80 anggota di Desa Randu Agung.
Tidak hanya lansia, ibu-ibu berusia 30 tahun pun bisa bergabung. Baginya, setiap pelestarian budaya memerlukan regenerasi.
Belakangan ini, dia menerima pesanan 60 kain batik dari Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Jawa Timur. “Kalau ada pesanan, kami terima. Namun tujuan utama kami bukan itu omzet. Melainkan melestarikan dan memperkenalkan budaya Singosari,” ujar alumni SMP Santa Maria Surabaya itu.
Tidak hanya kain, nantinya, dia juga akan merancang pakaian pernikahan khas Singosari. Dengan jarik yang dililit untuk perempuan beserta selendangnya dan udeng untuk laki-laki. Jarik dan udeng tersebut akan diberi motif, salah satunya Pending. Itu salah satu unsur dari Adi Luhung.

