Sejak pertama kali digelar pada 2003, Jember Fashion Carnival (JFC) telah memantapkan diri sebagai salah satu acara fashion terbesar di Indonesia. Karnaval yang memiliki catwalk terpanjang di dunia (sekitar 3,6 kilometer) di pusat kota kota Jember ini selalu menghadirkan peserta parade dengan kostum yang rumit dan unik.
Pada 2016 JFC akan dihelat pada 24 sampai 28 Agustus 2016. Penggagas JFC, Dynand Fariz, mengatakan bahwa ajang tahun ini akan memberikan kejutan dengan tema baru, yaitu tema yang berkaitan dengan kembangkan Indonesia.
Tema ini dipilih untuk merepresentasikan kebangkitan Indonesia dalam berbagai bidang seperti pertanian, lingkungan hidup, maritim, teknologi, industri kreatif, budaya dan olah raga menyongsong era Masyarakat Ekonomi Asean dan memasuki era pasar global.
Untuk mendukung tema kebangkitan Indonesia itu, panitia kemudian menjabarkannya dalam konsep 4E yaitu Education (pendidikan), Entertainment (hiburan), Exhibition (pameran) dan Economic Benefit (pengembangan ekonomi).
Konsep Education akan dilakukan melalui lokakarya tentang pengetahuan merancang busana, fashion run way, fashion dance, presenter, rias dan make up. Melalui ajang kompetisi (olimpiade) akan terlahir sumber daya manusia yang percaya diri. Selain itu diharapkan akan lahir instruktur, leader, koreografer, presenter, singer, enterpreneur, dan lain-lain. Selain itu melalui penggalian potensi diri peserta dengan memberikan kesempatan untuk pengembangan kreativitas melalui kompetisi akan terlahir ide-ide baru baik di bidang seni tari, merancang busana, aksesories serta yang lainnya.
Sebagai sebuah hiburan, JFC merupakan agenda ekslusif yang dapat menjadi tontonan bagi masyarakat dari segala profesi, usia, pendidikan, latar belakang ekonomi dan sebagainya. JFC juga diharapkan menjadi magnet bagi kunjungan wisatawan dalam negeri dan luar negeri.
Untuk mendukung JFC sebagai sebuah pameran, panitia mengharapkan ajang ini menjadi pusat studi atau riset tentang fashion carnaval, menjadi obyek pengambilan photo bagi fotografer professional dan amatir.
Sementara itu melalui penyelenggaraan event yang mempunyai konsep yang jelas, SDM yang berkwalitas, berkesinambungan, menarik, memperoleh dukungan dari masyarakat, pemerintah dan wakil rakyat memungkinkan untuk menjadi potensi wisata unggulan yang dapat menggerakkan potensi wisata lainnya (perhotelan, restaurant, transportasi, souvenir, makanan khas dan lain-lain).
Sekadar sebagai catatan, Jember Fashion Carnival yang perlahan-lahan makin terkenal di seantero Indonesia dan kini merambat ke tingkat dunia. Sejak 2008, angka kunjungan wisatawan yang datang ke JFC sudah mencapai angka 250 ribu wisatawan. Sedangkan pada 2015 kemarin, jumlah wisatawan yang datang di atas 800 ribu orang.
Selain jumlah wisatawan yang semakin meningkat, JFC juga menunjukkan keberadaannya di dunia internasional. Pada 22-24 April 2016 di Victoria, Seychelles, negara kepulauan kecil di Samudera Hindia, berdekatan dengan Afrika, JFC berhasil menjadi juara ketiga dalam Carnaval International de Victoria.
Juara satu dan dua diraih oleh Notting Hill (Amerika Serikat) dan Reunion (Perancis). Dalam karnaval tersebut, Indonesia mengalahkan 23 tim internasional lain seperti Brazil, Kamboja, Tiongkok Jerman Inggris, Afrika Selatan Zambia, Spanyol, Italia, Swiss, Kenya, Swedia, Rusia, Bahama, Maroko, Pantai Gading dan Mauritius.
Selain itu, JFC tahun ini juga menandai langkah kota Jember untuk muncul di dunia internasional dengan menjadi tuan rumah karnaval yang akan diikuti 10 negara di Asia Tenggara.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jember, Sandi Suwardi Hasan menyebutkan bahwa event yang bernama “2016 Wonderful Archipelago Carnaval Indonesia” ini akan digelar untuk memperkuat eksistensi Jember sebagai kota karnaval mendahului JFC yaitu pada 23 Agustus 2016.
Pakar pariwisata yang juga pengurus Wonderful Artchipelago Carnival Indonesia (WACI), Akhyarudin, mengatakan Jember dengan JFC-nya sangat luar biasa karena dapat menginsprasi daerah-daerah lain untuk menggelar kegiatan karnaval yang mendunia.
“JFC memiliki peluang bisnis yang cukup besar untuk dikembangkan mendongkrak perekonomian dan pariwisata Jember. Hal itu akan menjadi contoh bagi daerah lain,” kata mantan Dirjen Pengembangan Pariwisata Kementerian Pariwisata itu.

