Hubungan diplomatik Indonesia dan Iran sudah memasuki usia 75 tahun (1950–2025). Sejak pembukaan hubungan resmi, kedua negara tidak hanya menjalin kerja sama politik dan ekonomi, tetapi juga menekankan diplomasi kebudayaan sebagai pondasi hubungan jangka panjang. Pada dekade 1970-an, Memorandum of Understanding (MoU) kebudayaan ditandatangani untuk memperkuat pertukaran seni, sastra, dan pendidikan.
Iran memiliki tradisi kebudayaan yang sangat kaya, terutama dalam sastra klasik Persia. Tokoh-tokoh seperti Jalaluddin Rumi, Saadi, Firdausi, hingga Omar Khayyam telah lama memberi pengaruh luas, termasuk pada perkembangan kesusastraan di Nusantara. Di sisi lain, Indonesia dikenal sebagai negara dengan keanekaragaman warisan budaya tak benda terbanyak di Asia Tenggara yang diakui UNESCO, mulai dari batik hingga pencak silat. Pertemuan kedua tradisi ini membuka ruang dialog lintas peradaban yang saling memperkaya.

Diplomasi Budaya di Forum CHANDI
Dalam wawancaranya, Special Advisor Menteri Kebudayaan Iran serta perwakilan Kedutaan Besar Iran di Jakarta, terungkap bahwa kunjungan mereka ke Indonesia kali ini adalah untuk menghadiri Forum CHANDI (Cultural Heritage, Arts, Narrative, Diplomacy, and Innovation) yang digagas oleh Kementerian Kebudayaan RI. Forum ini dirancang sebagai platform pertukaran gagasan sekaligus kolaborasi strategis lintas negara dalam bidang budaya, warisan, dan seni.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon menjelaskan bahwa Iran mempunyai hubungan yang baik dengan Indonesia, sudah 75 tahun hubungan diplomatik, dan kita mempunyai MoU sejak tahun 1970-an dalam rangka memperkuat hubungan kebudayaan dua negara.
Pernyataan ini menegaskan konsistensi diplomasi budaya sebagai instrumen soft power kedua bangsa.
Bidang Kerja Sama Strategis
Beberapa peluang kerja sama konkret yang disampaikan antara lain:
- Industri Film – Iran menawarkan kolaborasi produksi film bersama Indonesia. Industri perfilman Iran dikenal global karena pendekatan humanis dan filosofisnya, sementara Indonesia tengah menguatkan ekosistem film nasional di level Asia. Kolaborasi ini dipandang dapat memperluas distribusi dan mempertemukan dua gaya sinema yang khas.
- Kaligrafi – Keduanya memiliki tradisi kuat kaligrafi: Iran dengan kaligrafi Persia dan Islam, sementara Indonesia dengan khat Arab-Melayu, Jawa, dan aksara lokal. Pertukaran ini berpotensi memperkaya seni rupa kontemporer dan mempertemukan seniman lintas tradisi.
- Pelestarian Warisan Budaya (Heritage Preservation) – Iran memiliki 25 situs UNESCO, mulai dari Persepolis hingga Golestan Palace. Indonesia dapat belajar dari pengalaman Iran dalam konservasi situs bersejarah. Sebaliknya, Indonesia dengan keragaman warisan tak benda (batik, gamelan, wayang) dapat berkolaborasi dalam inskripsi bersama di UNESCO.
- Warisan Budaya Tak Benda – Dalam wawancara, disebutkan inisiatif bersama pada ritual iftar (buka puasa), yang sudah diinskripsikan beberapa negara, termasuk Iran. Dukungan Iran agar Indonesia ikut dalam extension list UNESCO ini menunjukkan peluang diplomasi budaya berbasis agama dan tradisi.
Perspektif Akademik: Soft Power dan Jaringan Budaya
Secara akademis, diplomasi budaya antara Indonesia dan Iran dapat dibaca melalui kerangka soft power Joseph Nye. Kebudayaan, jika diposisikan sebagai instrumen diplomasi, memiliki daya tarik yang melampaui politik formal. Sastra, musik, seni visual, hingga praktik ritual keagamaan menciptakan jembatan emosional yang mampu memperdalam relasi antarbangsa.
Dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia dan Iran sama-sama memegang peran strategis dalam membangun jaringan budaya Islam global yang inklusif. Selain itu, kerja sama lintas disiplin seperti film dan seni rupa berpotensi menjadi entry point untuk memperluas kolaborasi ekonomi kreatif, pariwisata budaya, dan diplomasi publik.
Pertemuan Indonesia–Iran di Forum CHANDI 2025 bukan sekadar seremoni peringatan 75 tahun hubungan diplomatik, melainkan sebuah momentum untuk mengaktifkan kembali MoU kebudayaan yang telah berjalan sejak 1970-an. Dengan mengintegrasikan kerja sama di bidang film, kaligrafi, pelestarian warisan, dan inskripsi UNESCO, kedua negara dapat memperkuat posisinya sebagai adidaya budaya di kawasan masing-masing.
“Iran sangat mendukung Indonesia ikut dalam extension list mereka di UNESCO,” ujar Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

