Ragam bahasa, suku, dan budaya di Indonesia juga terdapat di dalamnya akulturasi budaya asing yang masuk. Salah-satunya adalah pengaruh budaya Tionghoa. Terinspirasi kekayaan budaya Indonesia, Deden Siswanto merancang busana etnik yang merepresentasikan pengaruh budaya Tionghoa di Indonesia. Bahkan, busana peranakan tersebut memiliki bentuk yang unik karena terdiri atas beberapa bagian.
’’Busana ini memang bergaya asimetrical layering dengan beragam motif dan warna,’’ ungkapnya dalam acara Ethnic Wear Beauty of Indonesia di Grand City Surabaya.
Busana yang ditampilkan dalam review tersebut terdiri atas dua looks, perempuan dan laki-laki. Pada busana perempuan, Deden menampilkan blus berkerah yang dibalut outer kain tenun dan bawahan sarung. Untuk busana pria, Deden memilih batik lasem untuk menghias kemeja lengan panjang yang juga digabungkan dengan sarung dan outer tenun.
Deden lantas menyempurnakan desain tersebut dengan aksesori unik dari Kalimantan. ’’Agar kesan Tionghoanya terlihat, saya menggunakan batik bermotif phoenix, burung mitologi dari Tiongkok, sebagai kekayaan batik lasem sendiri,’’ paparnya. Kesan oriental semakin kental karena Deden mengaplikasikan riasan serta gaya rambut cepol khas kaisar-kaisar Tiongkok.
Meski berlapis-lapis, desainer asal Bandung itu menjamin busana tersebut tetap nyaman dikenakan. Pun jika pemakainya orang yang aktif bergerak. Selain itu, busana dengan warna cerah dan dinamis dapat dipadupadankan jika layer per layer-nya dilepas.
Misalnya, jika outer berbahan kain tenunnya dilepas, kemeja dengan batik lasem dapat digunakan untuk menghadiri sebuah acara formal. Jika outer dari busana perempuannya dilepas, blus dengan kombinasi sarung bisa dikenakan sebagai busana kerja.
Selain Deden, peragaan busana tersebut diikuti tampilan Priska Henata dengan busana tenun dan katun yang anak muda banget. Lalu, ada Elizabeth Njo May Fen dengan busana twist free serta Geraldus Sugeng dan Laura Paulina Kelly dengan busana cocktail dan evening dress bergaya etnik.
Sumber: Jawa Pos.com

