Ijazah kelulusan kuliahnya tak diambilnya untuk sementara waktu. Ia memilih demikian agar tidak tergoda untuk melamar pekerjaan seperti yang dilakukan teman-temannya.
Sebagai lulusan bertitel sarjana ekonomi, dirinya melihat peluang di lingkungannya yang berasal dari keluarga pembatik. Ayahnya adalah seorang pembatik, sedangkan dirinya mengetahui produksi membatik. Namun ia tidak memilih produksi sebagai jalan hidupnya, melainkan berposisi sebagai pemasar produk-produk ayahnya.
“Itu hal yang paling realistis dan paling cepat saya lakukan saat itu. Tanpa modal dan saya malah bisa mendapatkan modal dari situ,” cetusnya mengenang ikhwal dirinya terjun ke dunia pembatikan. “Batik segmen pria menjadi pusat perhatian saya, dan saya menjual produk-produk itu berkeliling,” tambahnya.
Kiprahnya dimulai tahun 1999 disaat dirinya telah lulus kuliah. Kota Pekalongan sebagai tanah kelahirannya banyak menghasilkan produksi batik. Dan image Kota Pekalongan sebagai kota penghasil batik pun telah lama dikenal. “Sejak kecil saya sudah dikenalkan dengan dunia pembatikan dan belajar untuk memproduksinya. Namun hal yang paling kuat dalam diri saya adalah tantangan untuk menjual produk-produk batik tersebut. Maka saya menjualnya dari skala kecil hingga akhirnya berskala besar.” Meski resmi terjun total ke dunia penjualan batik, ia telah merintisnya sejak kuliah.
Ijazah kelulusan kuliahnya tak diambilnya untuk sementara waktu. Ia memilih demikian agar tidak tergoda untuk melamar pekerjaan seperti yang dilakukan teman-temannya. Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta ini ingin banyak berkecimpung dalam lika-liku dunia bisnis batiknya.
Ada hal yang menjadi perhatiannya dalam industri batik di kotanya dan lantas menjadi motivasinya untuk mengubah hal tersebut terhadap bisnisnya. “Saya melihat ayah saya memproduksi batik dari mencanting, nglorod, hingga menjualnya. Ini manajemen bakul bakso yang mau saya rubah, karena bagaimana bisa usaha menjadi besar jika semuanya dikerjakan sendiri?” tukasnya. Hal yang sama ia lihat dari teman-temannya yang pula memproduksi batik hingga ke tingkat penjualannya sendirian. “Semangatnya saya akui sangat luar biasa untuk itu. Namun tidak bisa hal tersebut dikerjakan sendiri. Harus ada bagi-bagi tugas. Mereka pekerja keras, jujur, amanah, tetapi tidak maju-maju karena demikian,” tambahnya panjang lebar.
Pembagian tugas merupakan hal utama bagi dirinya agar usaha yang dijalaninya bisa fokus dijalaninya secara terpadu. “Kemampuan produksi agar maksimal ya harus membutuhkan kepala produksi untuk mengontrolnya. Begitu pula dengan urusan penjualan, harus ada kepala marketing yang harus memikirkannya. Karena dasar saya orang ekonomi, maka yang saya lakukan adalah marketing, marketing, dan marketing,” ujar anak pertama dari tujuh bersaudara pasangan H. Slamet Darmun dan Hj. Nurasih tersebut.
Batik Kepresidenan
Motif Jogja yang dikenakan Presiden Gus Dur mendongkraknya hingga produk-produknya yang berlabel Batik Pesisir Failasuf terkenal.
Kreativitas dalam industri batik menjadi keutamaan bagi dirinya. Eksplorasi motif dan corak, ragam warna dan desain, menentukan laku tidaknya batik di pasaran. Selang beberapa waktu ia total terjun ke dunia bisnis batik, suami dari Hj. Jumaei ini mengusulkan kepada orang produksinya untuk membuat motif-motif memikat dan potensial laku di pasaran. Dari koleksi yang terdapat di showroom-nya di Desa Kemplong No. 231 Wiradesa Kabupaten Pekalongan, terdapat ragam motif batik dari Jawa Hokokai-an, Pagi-Sore, hingga motif keraton seperti motif ala keraton Jogja dan Solo.
Lewat seorang temannya yang bekerja di Danar Hadi, ia belajar banyak bagaimana bisnis batik dapat dijalankan secara profesional. “Batik tradisional dengan pengelolaan profesional merupakan usaha yang saya mimpi-mimpikan,” kenangnya.
Era kepemimpinan Presiden Abdurahman Wahid alias Gus Dur, ia melihat dengan seksama batik menempati posisi tertinggi dalam pemerintahan dengan batik-batik yang dikenakan Gus Dur. Maka ia mencari tahu siapakah gerangan orang yang mendesain batik-batik yang dikenakan Presiden Gus Dur tersebut.
Menjadi salah-satu anggota di dalam Yayasan Batik Indonesia, ia termotivasi untuk mendirikan Kampung Batik Wiradesa tahun 2005 silam untuk mengangkat para perajin lokal dan brand batik Pekalongan.
Sosok Adjie Notonegoro didapatnya sebagai desainer busana kepresidenan. Maka ia mendatanginya dan menawarkan produk-produknya. Pria kelahiran 5 Maret 1975 ini kemudian menyuplai bahan baku kain batik tulis ke desainer tersebut. Motif Jogja yang dikenakan Presiden Gus Dur mendongkraknya hingga produk-produknya yang berlabel Batik Pesisir Failasuf terkenal. Produk-produknya kemudian dikenakan pula oleh presiden-presiden setelahnya seperti Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono.
Hasil yang dituainya kemudian adalah produk-produknya dikenakan pada momen-momen penting lainnya seperti busana resmi KTT G15 tahun 2001, Pemilihan Putri Pariwisata Indonesia 2008, hingga turut dalam pameran-pameran berskala nasional maupun internasional.
Keberhasilannya tersebut berbanding sama dengan kebanggaannya terhadap upaya Yayasan Batik Indonesia yang concern dengan berbagai kegiatan pelestarian dan pengembangan batik Indonesia. Menjadi salah-satu anggota di dalam Yayasan Batik Indonesia, ia termotivasi untuk mendirikan Kampung Batik Wiradesa tahun 2005 silam untuk mengangkat para perajin lokal dan brand batik Pekalongan. “Awalnya hanya 10 orang perajin yang ikut, tetapi 2015 ini telah mencapai 80 orang lebih.”
Ia berharap batik hadir di segala zaman. “Yang dapat menghidupkannya adalah trend. Jika dulu ikon-ikon tersebut dihidupkan oleh kepala negara, seharusnya kali ini demikian. Trend tersebut yang akan menggerakkan industri batik berjalan lancar. Lewat fashion, batik pula bisa menjadi trend,” pungkas Ketua KADIN Kabupaten Pekalongan dan pemilik Grand Grosir Pantura atau disingkat Grand GP di Jalan Raya Kauman Wiradesa Kabupaten Pekalongan.

