https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in

Jejak Batik Organik Pasuruan, Warna Alam yang Menembus Pasar Mancanegara

Perjalanan batik Pasuruan menunjukkan bahwa tradisi dapat berjalan beriringan dengan inovasi. Ketika banyak industri tekstil berlomba memproduksi kain secara cepat dan massal, para pembatik Pasuruan justru mempertahankan proses alami yang membutuhkan kesabaran dan ketelitian tinggi.

Di sebuah rumah produksi sederhana di Jalan Bader, Kalirejo, Bangil, Kabupaten Pasuruan, lahir karya batik yang tak hanya indah dipandang, tetapi juga ramah lingkungan. Batik khas Pasuruan dikenal sebagai salah satu batik organik unggulan di Jawa Timur yang menggunakan bahan pewarna alami dari tumbuhan sekitar.

Pengrajin batik Sri Kholifah menjadi sosok penting dalam pengembangan batik organik tersebut. Ia memanfaatkan getah daun mangga, kunyit, mahoni, hingga jolawe sebagai bahan dasar pewarna kain. Dari tangan terampil para perajin, lahirlah kain batik dengan warna-warna alami yang tetap memikat, mulai dari kuning keemasan, coklat tua, hingga nuansa kebiruan yang elegan.

Proses pewarnaan dilakukan dengan teknik fiksasi atau pencelupan menggunakan zat pengikat seperti kapur, tawas, dan batu tunjung. Teknik inilah yang menentukan kedalaman warna sekaligus karakter unik setiap lembar kain batik. Berbeda dengan batik berbahan kimia yang dapat selesai dalam dua pekan, batik organik Pasuruan membutuhkan waktu hingga dua bulan untuk satu kali produksi.

Lamanya proses tersebut berbanding lurus dengan nilai jualnya. Harga batik organik Pasuruan berkisar antara Rp400 ribu hingga Rp4,5 juta per lembar, tergantung motif dan jenis kain yang digunakan, mulai dari mori hingga sutera ATBM.

Yang membuat batik Pasuruan semakin istimewa adalah keberhasilannya menembus pasar internasional. Konsumen luar negeri mulai melirik tekstil berbahan alami karena dianggap lebih aman bagi kesehatan kulit dan ramah lingkungan. Di tengah meningkatnya kesadaran global terhadap produk berkelanjutan, batik organik Pasuruan menemukan momentumnya.

Tak hanya mengandalkan pewarna alami, batik Pasuruan juga kuat dalam identitas motif daerah. Motif Sumirat Ambarwangi, misalnya, terinspirasi dari bunga sedap malam yang menjadi ikon Kabupaten Pasuruan. Ada pula motif Welirang Gondo Mukti yang menggambarkan kemegahan Gunung Welirang sebagai destinasi wisata unggulan daerah tersebut.

Sementara itu, motif Ciptaning Kusuma Wijaya mengangkat kisah Raja Airlangga yang bertapa di Gunung Arjuna. Motif lain seperti Wiyosing Widi dengan bunga krisan Nongkojajar, serta Husadaning Yekti bermotif daun sirih dan pasir Bromo, semakin memperkuat identitas budaya lokal dalam setiap helai kain.

Perjalanan batik Pasuruan menunjukkan bahwa tradisi dapat berjalan beriringan dengan inovasi. Ketika banyak industri tekstil berlomba memproduksi kain secara cepat dan massal, para pembatik Pasuruan justru mempertahankan proses alami yang membutuhkan kesabaran dan ketelitian tinggi.

Kini, batik organik Pasuruan bukan sekadar kain tradisional, melainkan simbol pelestarian lingkungan dan budaya lokal. Di balik setiap motif dan warna alami yang tercipta, tersimpan cerita tentang alam, sejarah, dan identitas masyarakat Pasuruan yang terus dijaga lintas generasi.

Sumber:
Pemerintah Kabupaten Pasuruan – “Batik Pasuruan Kian Digandrungi”

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Sejarah Batik Jonegoroan sebagai identitas budaya Bojonegoro yang lahir dari festival batik tahun 2009. Kini menjadi industri batik handal.

Sejarah Batik Jonegoroan: Dari Festival Budaya Menjadi Identitas Kabupaten Bojonegoro

Mengenal 14 motif Batik Jonegoroan lengkap dengan makna filosofi budaya dan potensi alam Bojonegoro. Ini motif-motifnya!

14 Motif Batik Jonegoroan dan Makna Filosofinya yang Jadi Kebanggaan Bojonegoro