Batik merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai sejarah, filosofi, dan identitas daerah. Hampir setiap wilayah di Indonesia memiliki motif batik khas yang mencerminkan budaya lokalnya masing-masing. Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menjadi salah satu daerah yang berhasil membangun identitas budaya melalui Batik Jonegoroan.
Lahirnya Batik Jonegoroan bermula dari festival desain batik yang digelar Pemerintah Kabupaten Bojonegoro pada 29 Desember 2009. Festival tersebut dipelopori oleh Mahfudhoh Suyoto selaku Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bojonegoro. Ide pembuatan batik khas daerah muncul setelah UNESCO menetapkan batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia pada 2 Oktober 2009.
Festival tersebut mengusung tema kekayaan alam dan budaya Bojonegoro. Berbagai desain batik dikirimkan masyarakat melalui sistem online maupun secara langsung. Dari hasil seleksi, terpilih sembilan motif Batik Jonegoroan yang kemudian menjadi identitas budaya baru Kabupaten Bojonegoro.
Sembilan motif awal tersebut antara lain Rancak Thengul, Parang Lembu Sekar Rinambat, Sekar Jati, Pari Sumilak, Sata Ganda Wangi, Parang Dahana Munggal, Jagung Miji Emas, Mliwis Mukti, dan Gatra Rinonce. Setiap motif menggambarkan kekayaan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Motif Rancak Thengul misalnya, terinspirasi dari kesenian Wayang Thengul khas Bojonegoro. Sementara motif Sekar Jati menggambarkan pohon jati yang menjadi salah satu kekayaan alam utama daerah tersebut. Ada pula motif Parang Dahana Manunggal yang terinspirasi dari wisata api abadi Khayangan Api.
Antusiasme masyarakat terhadap Batik Jonegoroan berkembang sangat cepat. Pemerintah daerah kemudian mendorong penggunaan batik ini di lingkungan sekolah dan instansi pemerintahan. Pegawai negeri sipil diwajibkan mengenakan Batik Jonegoroan pada hari tertentu sebagai bentuk pelestarian budaya lokal.
Tidak berhenti sampai di situ, pada tahun 2012 Pemerintah Kabupaten Bojonegoro kembali mengadakan festival desain motif batik bertema Agro Bojonegoro. Dari festival tersebut lahirlah lima motif baru, yaitu Belimbing Lining Lima, Pelem-Pelem Sumilar, Sekar Rosella Jonegoroan, Woh Roning Pisang, dan Surya Salak Kartika.
Dengan tambahan lima motif baru tersebut, jumlah motif Batik Jonegoroan menjadi empat belas motif. Semua motif menggambarkan potensi pertanian, perkebunan, hingga budaya lokal Bojonegoro.
Keberadaan Batik Jonegoroan tidak hanya memperkuat identitas budaya daerah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Banyak warga mulai menekuni usaha batik sebagai sumber penghasilan tambahan.
Pemerintah daerah juga aktif memberikan pelatihan membatik, pembinaan pengrajin, serta memfasilitasi pameran tingkat nasional untuk memperluas pemasaran Batik Jonegoroan.
Kini, Batik Jonegoroan bukan sekadar kain tradisional, melainkan simbol kebanggaan masyarakat Bojonegoro yang terus berkembang dan dikenal lebih luas di Indonesia.
Sumber Berita:
Hanif At Tanthowy dan Septina Alrianingrum, Ragam Motif Batik Bojonegoro Sebagai Upaya Membangun Identitas Daerah di Bojonegoro Tahun 2009-2014, AVATARA e-Journal Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya, Volume 3 Nomor 3, Oktober 2015.

