Pelestarian budaya lokal membutuhkan pendekatan yang mampu mengikuti perkembangan generasi muda. Salah satu upaya menarik dilakukan melalui kampanye pengenalan Batik Jonegoroan di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Kampanye ini dirancang khusus untuk anak-anak sekolah dasar dengan metode kreatif dan interaktif.

Anak usia 6 hingga 12 tahun memiliki karakteristik aktif, menyukai permainan, dan lebih mudah memahami informasi secara visual. Berdasarkan kondisi tersebut, kampanye Batik Jonegoroan menggunakan konsep belajar sambil bermain agar pengenalan budaya terasa menyenangkan.
Program ini dilaksanakan melalui roadshow ke beberapa sekolah dasar di Bojonegoro selama 15 hari. Anak-anak dikenalkan pada berbagai motif Batik Jonegoroan menggunakan media visual seperti poster, kartu informasi, permainan edukasi, dan aktivitas mewarnai.
Poster menjadi media utama dalam kampanye ini. Desain poster dibuat penuh warna dengan ilustrasi anak-anak dan motif batik yang tersembunyi di beberapa elemen visual. Konsep tersebut bertujuan membangun rasa penasaran sekaligus menarik perhatian siswa.
Selain poster, panitia juga membuat media pendukung seperti pin, stiker nama, notes, tas kanvas, sampul buku, hingga jadwal pelajaran bertema Batik Jonegoroan. Semua media dirancang menggunakan gaya visual ceria dengan warna-warna cerah dan tipografi modern.
Salah satu media yang paling menarik adalah permainan bongkar pasang. Anak-anak diminta memasangkan pakaian bermotif batik pada karakter laki-laki dan perempuan. Permainan ini membantu anak mengenal motif batik tanpa merasa sedang belajar.
Kampanye ini juga menggunakan pendekatan psikologi anak. Pada usia sekolah dasar, anak memiliki daya imajinasi dan memori visual yang tinggi. Karena itu, seluruh media dibuat dengan ilustrasi fiktif dan desain non-realistis agar lebih dekat dengan dunia anak-anak.
Dalam kegiatan tersebut, anak-anak tidak hanya dikenalkan pada bentuk motif, tetapi juga makna dan filosofi yang terkandung di dalamnya. Mereka belajar bahwa batik merupakan bagian penting dari identitas budaya daerah.
Pendekatan kreatif seperti ini menjadi contoh bahwa edukasi budaya tidak harus dilakukan secara formal dan membosankan. Dengan metode yang tepat, anak-anak justru dapat lebih mudah mencintai budaya lokalnya sendiri.
Kampanye Batik Jonegoroan juga menunjukkan bahwa media visual memiliki peran besar dalam proses pendidikan budaya. Ketika budaya dikemas secara menarik dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, maka pesan yang disampaikan akan lebih mudah diterima.
Melalui strategi kreatif ini, diharapkan generasi muda Bojonegoro semakin mengenal dan bangga terhadap Batik Jonegoroan sebagai bagian dari identitas daerah mereka.
Sumber:
Yovita Emanuella V., Obed Bima W., dan Aniendya Christianna. Perancangan Kampanye Pengenalan Batik “Jonegoroan” di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Universitas Kristen Petra Surabaya.

