Batik merupakan salah satu identitas budaya Indonesia yang telah diakui dunia. Namun di tengah perkembangan industri fashion global, banyak budaya lokal mulai kehilangan ruang di kalangan generasi muda. Fenomena ini juga terjadi pada batik tradisional yang mulai tersisih oleh tren busana modern.
Dalam penelitian berjudul Pengembangan Ragam Hias Batik Banten dengan Teknik Reka Latar karya Zahra Afdianahl dari FSRD ITB, dijelaskan bahwa perkembangan industri fashion Indonesia kini banyak mengikuti tren dunia dan mulai meninggalkan ciri khas budaya Nusantara.
Padahal Indonesia memiliki kekayaan budaya tekstil yang sangat besar, salah satunya Batik Banten. Batik ini merupakan warisan sejarah peninggalan Kesultanan Islam Banten yang memiliki nilai historis tinggi dibanding ragam hias Nusantara lainnya.

Sejarah Batik Banten dari Kerajaan Islam Banten
Batik Banten memiliki akar sejarah yang kuat. Ragam hiasnya berasal dari motif gerabah dan keramik peninggalan Kerajaan Islam Banten yang ditemukan di situs Keraton Surosowan.
Dalam penelitian tersebut disebutkan terdapat 75 ragam hias peninggalan Kerajaan Islam Banten yang kemudian diangkat kembali menjadi motif Batik Banten.
Motif tersebut lahir dari proses akulturasi budaya yang panjang. Banten sejak dahulu menjadi wilayah strategis perdagangan internasional karena berada dekat Selat Sunda. Pengaruh budaya Cina dan India kemudian berasimilasi dengan budaya lokal dan menghasilkan kekayaan ragam hias khas Banten.
Keunikan Batik Banten juga terlihat dari filosofi namanya. Nama motif diambil dari toponim desa, tata ruang kerajaan, hingga gelar kesultanan Banten.
Batik Banten Dikembangkan Menjadi Fashion Kontemporer
Untuk menjaga eksistensi budaya lokal, diperlukan inovasi yang mampu menjembatani tradisi dan gaya hidup modern. Penelitian ini mencoba mengembangkan Batik Banten menjadi busana kontemporer berupa gaun koktail perempuan muda.
Konsep tersebut dilakukan tanpa menghilangkan identitas asli Batik Banten. Pengembangan dilakukan pada:
- komposisi motif,
- warna,
- teknik pengerjaan,
- hingga penempatan visual yang lebih modern.
Jika Batik Banten sebelumnya memiliki susunan motif yang teratur, maka dalam pengembangan baru motif dibuat lebih bebas dan dinamis. Warna-warna lembut khas Batik Banten juga dikembangkan menjadi lebih cerah agar sesuai dengan karakter perempuan muda usia 16 hingga 25 tahun.
Teknik Modern dalam Pengembangan Batik Banten
Penelitian ini menggunakan berbagai teknik reka latar atau surface design untuk memperkuat nilai estetika kain.
Beberapa teknik yang digunakan antara lain:
- batik tulis,
- lukis sutera,
- flocking,
- foiling,
- dan bordir.
Penggabungan teknik tradisional dan modern ini bertujuan menciptakan tampilan fashion yang lebih relevan dengan tren dunia tanpa meninggalkan akar budaya Indonesia.
Beberapa motif yang dikembangkan dalam penelitian ini antara lain:
- Surosowan,
- Datulaya,
- Kawangsan,
- dan Madelaras.
Motif tersebut diterapkan pada desain gaun koktail dan aksesoris wedges untuk memperkuat citra fashion modern berbasis budaya lokal.
Pelestarian Budaya Melalui Dunia Fashion
Pengembangan Batik Banten menjadi fashion modern membuktikan bahwa budaya tradisional tetap bisa hidup di tengah perkembangan zaman. Pendekatan kreatif seperti ini menjadi salah satu strategi penting dalam menjaga keberlanjutan budaya Nusantara.
Melalui inovasi desain, Batik Banten tidak hanya menjadi simbol sejarah, tetapi juga mampu tampil sebagai bagian dari industri kreatif modern yang diminati generasi muda.

