Di sebuah desa di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, aktivitas membatik tidak sekadar menjadi pekerjaan tangan. Di tempat ini, membatik adalah bagian dari perjalanan spiritual. Jarum canting yang menari di atas kain berjalan beriringan dengan lantunan syair kitab. Tradisi ini dikenal dalam komunitas batik Rifaiyah, yang diwariskan oleh para pengikut ajaran ulama besar, Ahmad Rifai.
Bagi para pembatik di Kalipucang Wetan, membatik bukan sekadar menciptakan motif. Ia menjadi cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
“Biasanya kalau kami membatik, sambil membaca kitab karya Kiai Ahmad Rifai. Kami menyebutnya syaratan,” kata Miftakhutin atau akrab disapa Mbak Utin, salah satu pembatik Rifaiyah.
Tradisi ini telah hidup lama dalam kehidupan masyarakat setempat, menjadikan batik bukan hanya produk budaya, tetapi juga media penghayatan spiritual.
Membatik Sambil Melantunkan Syair Kitab
Ketika canting mulai menyentuh kain, para pembatik sering kali melantunkan syair-syair dari kitab yang ditulis oleh Kiai Ahmad Rifai.
Syair-syair itu tidak hanya berisi ajaran agama, tetapi juga pengingat tentang makna kehidupan.
“Saya senang membaca bagian yang mengingatkan bahwa hidup ini tidak hanya di dunia saja. Nanti kita akan menuju alam keabadian,” ujar Utin.
Lantunan syair tersebut membuat proses membatik terasa lebih tenang. Setiap goresan lilin pada kain menjadi lebih terarah, lebih sabar, dan lebih penuh penghayatan.
Menurut para pembatik, membaca kitab sambil membatik membuat batik yang dihasilkan terasa lebih halus dan memiliki ruh.
Kitab Abyān al-Ḥawā’ij dan Ajaran Kehidupan
Salah satu kitab yang sering dibaca adalah Abyān al-Ḥawā’ij, karya Kiai Ahmad Rifai. Kitab ini berisi ajaran dasar tentang tata cara ibadah dan kehidupan sehari-hari.
Salah satu pesan yang sering diingat para pembatik berbunyi:
“Papeling, yen wong arep nyuceni awak kanggo ibadah, kudu ngerti banyune luwih dhisik.”
Artinya, seseorang yang ingin bersuci sebelum beribadah harus memahami terlebih dahulu air yang digunakan untuk bersuci.
Bagi masyarakat Rifaiyah, pelajaran seperti ini menjadi dasar dalam kehidupan. Nilai-nilai spiritual tersebut kemudian meresap dalam aktivitas sehari-hari, termasuk dalam tradisi membatik.
Dari Mengaji ke Membatik
Dalam kehidupan komunitas Rifaiyah, belajar membatik tidak bisa dipisahkan dari kegiatan mengaji.
Biasanya sebelum memulai pembelajaran, masyarakat terlebih dahulu membaca syaratan atau qabalan, semacam pembukaan sebelum membaca kitab.
Kegiatan mengaji kitab karya Kiai Ahmad Rifai dilakukan secara rutin. Kitab-kitab tersebut jumlahnya sangat banyak. Konon, Kiai Ahmad Rifai menulis sekitar 60 kitab, sebagian besar dalam bentuk syair agar mudah dihafal.
Setelah mengaji, barulah para perempuan belajar membatik.
Di sinilah dua tradisi bertemu: tradisi keilmuan dan tradisi kerajinan.
Pawon: Ruang Belajar yang Sederhana

Belajar membatik di komunitas Rifaiyah tidak dilakukan di ruang kelas atau sanggar khusus.
Sebaliknya, tempat belajar justru berada di pawon, atau dapur rumah.
Di tempat sederhana itu, ibu-ibu mengajarkan anak-anak perempuan mereka membatik sambil melakukan pekerjaan rumah tangga.
“Ibu biasanya sambil memasak di dapur, sambil mengajari kami membatik,” kenang Utin.
Tradisi itu berlangsung secara alami dari generasi ke generasi.
Komunitas yang Pernah Tertutup
Pada masa lalu, komunitas Rifaiyah dikenal cukup tertutup. Banyak keluarga yang membatasi pengaruh luar dalam kehidupan mereka.
Televisi, radio, atau tape recorder bahkan tidak diperbolehkan ada di rumah.
“Rumah kami dulu sangat sepi. Tidak ada televisi, tidak ada radio,” kata Utin.
Kondisi itu membuat masyarakat lebih banyak mengisi waktu dengan kegiatan internal komunitas, seperti mengaji dan membatik.
Tanpa disadari, kebiasaan ini justru memperkuat tradisi budaya mereka.
Ketika Dua Jalan Bertemu
Bagi masyarakat Rifaiyah, mengaji dan membatik akhirnya menjadi dua jalan yang menyatu.
Syair-syair kitab mengalir bersama proses membatik. Sementara motif-motif batik yang tercipta memuat nilai-nilai kehidupan yang diajarkan dalam kitab.
“Awalnya mungkin dua jalan yang berbeda,” kata Utin. “Tapi ketika dilakukan bersama, rasanya justru lebih nikmat.”
Tradisi ini membuat batik Rifaiyah tidak hanya memiliki keindahan visual, tetapi juga kedalaman makna spiritual.
Batik sebagai Ibadah
Dalam tradisi Rifaiyah, membatik sering dipandang sebagai bagian dari ibadah.
Prosesnya dilakukan dengan kesabaran, ketelitian, dan ketenangan hati. Nilai-nilai itu selaras dengan ajaran spiritual yang mereka pelajari dari kitab.
Tidak heran jika banyak orang yang melihat batik Rifaiyah memiliki karakter yang berbeda.
Motifnya khas, warnanya matang, dan garis-garisnya terasa hidup.
Bagi para pembatiknya, setiap kain batik bukan sekadar karya seni, melainkan perjalanan batin yang dituangkan ke dalam kain.
Warisan Budaya yang Perlu Dijaga
Di tengah perubahan zaman, tradisi seperti ini menjadi sangat berharga.
Batik Rifaiyah menunjukkan bahwa kerajinan tradisional bisa memiliki hubungan yang sangat erat dengan nilai spiritual dan pendidikan.
Ia bukan hanya produk budaya, tetapi juga cara hidup.
Di desa-desa kecil Batang, tradisi membatik sambil mengaji masih terus dijaga. Canting tetap bergerak, syair kitab tetap dilantunkan, dan warisan Kiai Ahmad Rifai terus hidup dari generasi ke generasi.
Di sana, setiap helai batik bukan hanya karya tangan—tetapi juga doa yang dituliskan di atas kain.

