Mengasosiasikan Bekasi Dalam Batik Bekasi

Batik Bekasi kombas

Bekasi punya batik? Pertanyaan itu akan sering terdengar oleh orang luar Bekasi bahkan yang menghuni di wilayahnya sekalipun. Berdasarkan penelusuran para budayawan setempat dan Komunitas Batik Bekasi (KOMBAS), diketahui batik Bekasi telah ada sejak 1892. Kemunculannya tercatat pada keikutsertaannya batik Bekasi di pameran batik Jawa di Amsterdam di tahun tersebut.

Awalnya dikenal dengan nama batik Tarawang. Namun lambat laun menjadi identik dengan batik Karawang. Tanggal 10 Maret 2014, pemerintah Kota Bekasi secara resmi mendaftarkan ragam pakem motif batik khas Bekasi ke Ditjen HAKI.

Upaya ini ditujukan untuk menghidupkan tradisi dan budaya batik yang sempat menghilang cukup lama. Sekaligus pula untuk memotivasi dan mengangkat harkat dan martabat para pelaku kerajinan batik di daerah Bekasi.

KOMBAS adalah penggagas kemunculan kembali batik Bekasi. Dan secara aklamasi bertugas mendukung popularitas batik khas Bekasi ke tingkat nasional maupun internasional.

KOMBAS sendiri telah berdiri sejak tanggal 2 Oktober 2010, bertepatan dengan peringatan Hari Batik Nasional. Di tanggal dan bulan yang sama di tahun sebelumnya (2009) pula batik Indonesia dinobatkan secara resmi diakui oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientifiec and Cultural Organization) di Sidang ke-4 Komite Antar Pemerintah sebagai Warisan Budaya Tak Benda di Abu Dhabi.

KOMBAS sendiri melibatkan di dalam keanggotaannya berbagai unsur masyarakat dari mulai budayawan, sejarawan, akademisi, mahasiswa, maupun pelajar. Perjalanan batik Bekasi bukan tanpa aral. Sempat dianggap mirip dengan batik Betawi, batik Bekasi kemudian mengembalikan identitasnya dengan menggali budaya asli Bekasi.

Lewat beberapa perlombaan membuat motif batik khas Bekasi, muncul motif-motif khas baru yang digali dari khazanah budaya setempat. Diantara ada motif bendo (golok), ikan lele, mandar, dampu, ikan gabus, gedung Juang Tambun, Monumen Perjuangan, Kali Bekasi, tari topeng, dandang, legenda rawa tembaga, permainan anak benteng, dan masih banyak lagi.

Sedangkan untuk warna khasnya, umumnya berwarna terang khas pesisiran dengan warna hijau lumut, hijau daun, dan merah tanah.

Batiklopedia.com menemui Ketua KOMBAS Barito Putra di showroom KOMBAS di Bekasi Town Square. Barito menjelaskan perjalanan batik Bekasi kini butuh pembaruan dan inovasi agar pengembangannya makin masif dan berdaya saing tinggi. Ia menyebutkan pula bahwa produksi batik Bekasi untuk tulis mencapai 1000 kain per tahun, sedangkan batik printing berjumlah 10.000 kain per tahun.

Popularitas batik Bekasi diutarakan olehnya disosialisasikan pertamakali lewat institusi pemerintahan daerah hingga sekolah-sekolah. Tujuannya agar daya dukung perajin makin kentara hasilnya sebagai produk lokal kebanggaan Bekasi.

Melalui event seminar, workshop, dan pameran, KOMBAS intensif memberikan pengetahuan dan wawasan bagi warga Bekasi khususnya mengenal lebih dekat batiknya. Bahkan untuk skala regenerasi, KOMBAS menggandeng institusi pendidikan seperti perguruan tinggi dan sekolah untuk belajar dan mengembangkan batik Bekasi.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Batik Solo

Hits Batik Solo Di SBF Ke-9

Batik Bekasi kombas

KOMBAS Mengungkap Anggunnya Batik Bekasi